WAWANCARA

Puan Maharani: Saya Malah Belum Dengar Tjahjo Kumolo Mau Mundur

Sabtu, 28 Agustus 2010, 00:55 WIB
Puan Maharani: Saya Malah Belum Dengar Tjahjo Kumolo Mau Mundur
RMOL. Tjahjo Kumolo sudah lama berniat mundur dari jabatan Ketua Fraksi PDIP DPR setelah terpilih menjadi Sekretaris Jenderal partai berlambang kepala banteng moncong putih itu.

“Tugas sebagai Sekjen lebih utama. Soal ketua fraksi tentunya akan ada pergantian,” kata Tjahjo, pertengahan April lalu.

Tapi hingga kini belum ter­wujud. Malah Anas Urbaning­rum menyalipnya dengan mun­dur dari jabatan Ketua Fraksi Partai De­mokrat DPR setelah ter­pilih men­jadi Ketua Umum Partai Demo­krat.

Anehnya, Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, yang juga putri Megawati Soekarnoputri belum mendengar kabar tersebut.

“Saya malah belum mendengar soal keinginan mundur itu,’’ kata Puan Maharani kepada Rakyat Merdeka di Gedung DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Apa belum disampaikan se­cara resmi ke DPP ?
Saya malah belum dengar. Be­lum tahu ada pergantian tuh.

Jangan-jangan DPP tak mengabulkannya ?
Nggak tahu. Yang jelas, soal kesiapan beliau untuk menjabat atau berada di posisi manapun, saya kira sebagai kader partai harus siap.

Barangkali DPP merasa ja­batan rangkap seperti itu tidak ada masalah ?
Saya kira memang tidak ada masalah.

O ya, Golkar mengusulkan Par­liamentary Threshold (PT)  ditingkatkan dari 2,5 persen men­jadi 10 persen, bagaimana tanggapannya ?
Kalau kami tetap mengusulkan  lima persen sesuai dengan hasil Rakornas PDI Perjuangan yang lalu.

Jadi PDIP tidak setuju kalau PT ditingkatkan hingga 10 persen ?
Itu kan usulan Golkar, kalau kami punya sikap tersendiri. Si­la­kan saja berpendapat. Lagi­pula kan belum ada pertemuan soal itu.

Apa alasan bagi PDIP bahwa PT 5 persen ?
Pertama, penyederhanaan par­tai. Kedua, tentu saja agar masya­rakat tidak dibuat bingung deng­an pelaksanaan pemilu yang akan datang. Pelaksanaan Pilkada saja membuat rakyat sepertinya apa­tis. Nah kalau kita tidak beri se­mangat, rakyat akan berpikiran, ya sudahlah terserah siapa saja yang menang atau yang kalah.

Idealnya berapa fraksi sih di parlemen ?
Ya mingkin 6 sampai 7 partai. Tapi kan ini maunya PDIP, belum tentu yang lain setuju. Sekarang saja partai-partai lain pada ribut, jadi kita tidak mau berandai-andai, kita ikuti saja ke depannya dalam pembahasan Undang-Undang paket partai politik.

Aturan PT itu berlaku juga secara lokal ?
Itu belum satu keputusan ka­rena Undang-Undang politiknya saja masih mau dikaji. Jadi tidak bisa nentuin-nentuin sementara yang lain tidak setuju. Ya kita lihat saja, mengalir gitu saja deh.

Ngomong-ngomong, bagai­mana solusi menjaga hubungan baik dengan Malyasia ?  
Politik luar negeri kita kan bebas aktif, tapi kok tidak jelas sikapnya.

Kemarin ada aparat kita di­tangkap oleh polisi Malaysia, ke­mudian dibarter sama penja­hat, itu sikap yang tidak jelas. Politik luar negeri kita bebas aktif tapi kok kebablasan banget, batas negara tidak jelas, hukum­nya juga tidak jelas, jadi bagai­mana mau memproses segala sesuatu kalau tidak berdaulat di bidang politik dan tidak me­miliki kepri­badian di bidang kebudayaan.

 Jadi, masalahnya adalah batas wilayah ?
O ya.Yang jadi kendala selama ini kan batas-batas wilayah kita tidak jelas. Ibu Mega waktu men­jabat Presiden sudah beru­saha untuk membuat supaya pu­lau-pulau terluar kita itu memiliki batas wilayah yang jelas. Tapi hingga hari ini itu belum terlak­sana dengan baik.

Konflik dengan Malaysia kan sudah berulang-ulang, kenapa begitu ?
Justru itu membuat kami PDIP menyatakan bahwa pemerintah itu kurang tegas, dalam arti bagai­mana menjaga wibawa dan ke­dau­latan bangsa ini. Tapi yang terjadi kemudian kan mereka me­nyatakan bahwa hal itu tidak bisa dilihat secara hitam dan putih karena lautnya saja tidak jelas, ini punya kita apa negara lain.

Bagaimana dengan nasib ra­tu­san TKI terancam huku­man mati di Malaysia ?
Kita harusnya membela hak-hak mereka terlepas dari segala proses hukum yang sudah terjadi disana, apapun mereka itu adalah Warga Negara Indonesia (WNI) sehingga harus dibela dan tentu saja harus melakukan tindakan-tindakan pro-aktif dan menya­takan bahwa kami menginginkan warga Indonesia yang dalam hal ini sudah terpidana atau mena­jalani proses hukum untuk bisa dikembalikan ke Indonesia.

Apa yang dilakukan PDIP ter­kait hubungan kita dengan Malaysia ?
Ada rencana Fraksi untuk mengusulkan hak interpelasi.

Apakah itu sikap resmi Fraksi PDIP ?
Kalau dianggap perlu, tentu saja fraksi akan melakukan hal-hal untuk menjaga wibawa dan kedaulatan NKRI. Tapi itu harus ditindaklanjuti lagi dengan lapo­ran fraksi kepada rapat pleno DPP  yang dipimpin Ketua Umum (Megawati). [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA