Sebagaimana dalam relasi vertikal dengan Tuhan, keangkuahan dan kesombongan adalah bagaikan hijab yang membatasi dan membendung terjadinya komunikasi sosial. Maka hanya dengan sikap tulus ikhlas dan saling mengasihilah berbagai macam tembok kepalsuan yang menjadi hijab tersebut dapat dicairkan.
Maka memohon dan memberi maaf adalah sikap ksatria, karena lewat pintu itulah bakal terlempangkan jalan menuju terbangunnya kehidupan sosial yang tercerahkan. Memohon maaf adalah gambaran pengakuan salah. Sebagaimana sujud adalah gambaran perendahan diri kita yang serendah-rendahnya agar terbuka pintu maaf-Nya, maka memberi maaf pada sesama adalah cermin kerendahan hati yang dilatih dalam puasa.
Selama kita masih membangun tembok keangkuhan, kita takkan pernah bisa mendekati-Nya. Rasul bersabda: “Tidak akan pernah bisa masuk surga orang yang memiliki perasaan takabur di dalam hatinya walaupun sebesar dzarrah.”
Puasa tanpa kasih sayang terhadap sesama adalah kecelakaan. Tragis karena seseorang berpuasa namun tetap mematenkan kesombongan dan keangkuhan terhadap sesama. Bukankah Baginda Rasul bersabda: Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga”. Wallahu A’lam bish-shawab. [msk]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.