’’Saya melihat, apa saja yang dilakukan Presiden selalu salah. Begini salah, begitu salah. Beri kesempatan dong,’’ ujar Ketua Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP itu, di gedung DPR, Jakarta, kemarin.
Ini tentu menarik. Sebab, yang sering mengkritik pemerintah adalah kekuatan oposisi, seperti PDIP. Tapi saat ditanya seperti itu, Taufik malah berkata, di DPR itu partai koalisi sebanyak 70 persen.
Berikut kutipan selengkapnya:
Artinya Anda ingin mengatakan bahwa yang mengkritik itu ada juga dari parpol koalisi?
Kalau 70 persen itu kompak kan sudah kuat. DPR tidak mengkritik lagi.
DPR kan sewajarnya mengkritik?
Ya, tapi harus diberi kesempatan dong. Jangan dirongrong terus. Misalnya DPR sering merongrong Presiden, padahal parpol koalisi pendukung pemerintah 70 persen.
Ada anggapan pemerintah belum berbuat maksimal untuk kesejahteraan rakyat?
Ini kan (pemerintahan SBY-Boediono) belum selesai. Masih bisa konsentrasi 4 tahun lagi. Negara Republik Indonesia masih ada. Jadi menurut hemat saya, Presiden ini harus diberi kebebasan, beri kesempatan untuk nentuin ini, nentuin itu. Tapi jangan belum apa-apa, dirongrong terus. Masa presiden dirongrong terus sih.
Jadi hambatan membangun kesejahteraan masyarakat karena DPR tidak terlalu memberi dukungan maksimal pada pemerintah?
Bukan juga di DPR. Mau berbuat apa salah. Begini salah, gitu salah. Beri kesempatan dong.
Soal usulan perpanjangan masa jabatan Presiden menjadi tiga periode bagaimana?
Bukankah belum lama ini kita melakukan amandemen UUD 1945. Masa sudah mau diamandemen lagi sih. Kalau gitu sama saja sudah capek-capek bekerja, tapi tidak digunakan secara maksimal.
Tapi ini kan usulan kader Demokrat?
Presiden SBY itu orang baik, dia pasti menolak. Presiden saja menolak, kenapa kita yang ngotot mau melakukan amandemen.
Ini kan wacana muncul tatkala MPR membuka ruang itu, apakah ini berarti Anda tidak setuju jika MPR membuka gagasan itu?
Ya harusnya DPR maupun elemen lainnya menghormati keputusan SBY yang tidak menginginkan masa jabatan presiden itu ditambah. Itu kan sudah menunjukkan sikap demokratis dari seorang kenegarawan. Jadi memang pantas untuk ditiru.
O ya, saat ini sedang ramai-ramainya perampokan dengan menggunakan senjata api?
Ya mesti senjata api dikumpulin, nggak ada jalan lain. Ditarik kembali senjata-senjata itu.
Tapi untuk kumpulin senjata api yang beredar di masyarakat itu kan sulit?
Untuk kumpulin senjata dari Sabang sampai Merauke kan susah. Makanya kita semua mesti bertanggung jawab.Kepolisian saja personelnya cuma 400.000, mau ngumpulin senjata gitu kan susah. Makanya semua aparat difungsikan, seperti lurah, camat, dan lainnya.
Ngomong-ngomong, bagaimana komentar Anda soal penangkapan tiga petugas KKP yang masih menimbulkan gejolak kemarahan terhadap Malaysia?
Ya, seharusnya kepada Malaysia mestinya kita lebih tegas lagi.
Apakah pemerintah selama ini belum tegas?
Saya rasa begini, kalau kita sama-sama negara ASEAN, kalau ada kapal Malaysia lewat (masuk perairan Indonesia, red) kan bisa dikasih tahu ini ada nelayan kamu (melanggar, red). Kan kantor ASEAN dekat di sini.
O ya, bagaimana komentarnya terhadap barter yang telah dilakukan?
Kalau pemerintah melakukan barter, saya tidak setuju itu. Nggak boleh gitu dong. Kalau mau diplomasi, ya seperti yang saya katakan tadi, kalau kapal Malaysia mau masuk ke perairan kita, ya disampaikan. Saya mau usir nih.
Berarti aparat kita dengan petugas Malaysia di wilayah perbatasan kurang koordinasi?
Ya, seperti itulah. Kita ini kan negara sahabat kok, nyebrang ke Malaysia saja nggak perlu pakai visa. Makanya lakukan diplomasi saja.
Jadi seharusnya tidak perlu peristiwa tangkap menangkap itu?
Ya nggak perlu. Nggak perlu nangkap tujuh nelayan mereka, tiga petugas kita juga tidak perlu ditangkap. Kan bisa cukup dengan koordinasi saja.
Koordinasi tampaknya tidak cukup, buktinya sudah 10 kali pegawai KKP ditangkap militer Malaysia?
Makanya hubungan diplomatik kita harus lebih baik lagi. Kita ini kan punya hubungan baik dengan Malaysia sebagai negara tetangga, juga sama-sama tergabung dalam ASEAN. Jadi hubungan kita ada.
Tapi hubungannya kurang baik ya ?
Hubungan kita (memang) nggak baik. Padahal kita ke Malaysia itu nggak pakai visa, artinya hubungan inikan sudah baik sekali.
Nelayan dan aparat Malaysia banyak yang ngeyel, seenaknya masuk ke perairan kita?
Kalau ngeyel sih lain. Kalau dikasi tahu nggak bakalan ngeyel dia. Dikasi tahu sekali saja kan dia pasti mengerti. Tapi itu kalau hubungan kita (dengan Malaysia) baik. Kalau nggak baik ya gini.
Apa Presiden SBY perlu turun tangan untuk meningkatkan hubungan diplomatik?
Aku bilang kalau umpamanya kita punya hubungan baik, mending nggak usahlah.
Bagaimana menjaga hubungan diplomatik itu kalau Malaysia sering bersikap seperti itu?
Ya mesti saling jaga, saling menghormti. Saling menangkap itu tidak perlu, apalagi kalau sampai perang, itu nggak perlu deh.
[RM]
BERITA TERKAIT: