WAWANCARA

Abdul Rochim: Walaupun Sudah Diprotes, 7 Hari Kita Dilarang Menjenguk

Senin, 16 Agustus 2010, 07:14 WIB
Abdul Rochim: Walaupun Sudah Diprotes, 7 Hari Kita Dilarang Menjenguk
Putra ketiga Abubakar Baasyir, Abdul Rochim mengatakan, keluarga besar sangat terkejut dan  terpukul atas penangkapan ayahnya oleh Tim Densus 88, di Banjar, Jawa Barat, Senin (9/8) lalu, saat dalam perjalanan menuju Solo, Jawa Tengah.

Terutama Ibunya, Aisyah Baradja, yang sempat shock karena melihat kejadian seperti itu. Apalagi sempat ditangkap sebentar bersama ayahnya.

“Ibu kan melihat langsung keadaan yang sebenarnya. Beliau tidak suka dengan ke­jadian itu, sehingga terkejut, se­dih dan se­bagainya. Pokoknya ber­campur jadi satulah,” ujar putra bungsu Amir Jamaah An­shorut Tauhid (JAT) itu, kepada Rakyat Mer­deka, di Jakarta, kemarin.

Berikut kutipan selengkapnya:

Bagaimana perasaan Anda dan keluarga tentang penang­kapan itu?
Kalau keluarga jelas sangat ter­pukul dan kecewa sekali dengan penangkapan ini. Kami merasa diperlakukan dengan cara yang tidak sewajarnya. Kami tidak bisa menerima itu, walaupun polisi mengaku mempunyai bukti kuat dan sebagainya. Bagi kami, be­lum bisa terimalah.

Mengapa?
Karena dulu kejadiannya be­gitu. Ditangkap yang dulu juga begitu. Katanya punya bukti kuat-bukti kuat. Tapi realitanya juga tidak ada. (Sebelumnya polisi su­dah dua kali menangkap Baasyir.

Pertama, tahun 1983 dengan tuduhan menghasut orang untuk menolak azas tunggal Pancasila dan melarang santrinya hormat bendera merah putih. Kedua, pada Oktober 2002 dengan tu­duhan makar). 

Bagaimana keadaan Ibunya sekarang?
Kondisi Umi (panggilan untuk Ibunya) alhamdulillah sudah pulih dan enakan. Setelah pulang dari Mabes keadaannya masih sedikit shock karena melihat kejadian seperti itu. Umi kan ikut ditangkap sebentar bersama Abi (panggilan untuk Ayahnya). Dan melihat langsung penangkapan bagaimana keadaan yang sebe­narnya. Beliau tidak suka dengan kejadian itu sehingga sedikit terkejut, sedih dan sebagainya. Jadi, saat pulang dari kantor polisi itu masih agak shock.

Sudah berapa kali men­jenguk?
Saya baru sempat sekali, yakni sehari setelah ditangkap. Artinya, besoknya saya ke Jakarta beru­saha bertemu dengan beliau. Tapi dari pihak polisi belum mengi­zinkan karena masih 7 X 24 jam hak yang dimiliki oleh polisi. Katanya belum bisa ditemui. Walaupun beberapa teman warta­wan mengatakan, dasar hukum­nya apa, kok tidak boleh ditemui 7 X 24 jam. Tapi tidak dijelaskan.

Kemudian saya minta tolong kepada TPM (Tim Pengacara Muslim) untuk melobi polisi. Saya  kan datang dari jauh ber­sama kakak saya. Kalau nggak boleh ketemu, ya kebangetanlah. Akhirnya alhamdulillah bisa ke­temu, tapi maksimal setengah jam. Setengah jam kemudian saya disuruh keluar lagi.

Lantas bagaimana perasaan Ayah­nya?
Beliau senang se­kali kami bisa be­suk. Yang jelas saya memang mem­bawakan pa­kaian-pakaian beliau. Karena berangkat dari ceramah dan sampai ditangkap, beliau tidak membawa apa-apa.

Memang bawa apa saja?
Jubah yang sering dipakai beliau. Beberapa baju, handuk dan sebagainya.

Bagaimana keadaan Ayah­nya?
Beliau cukup tenang meng­hadapi kondisi ini dan cu­­kup memaklumi. Bahwa me­­mang ini agenda dari Barat (Ame­rika Serikat) dan ini resiko dari be­liau. Ya memang Barat meng­ingin­kan kalau mungkin bisa di­bunuh, ya dibunuh. Beliau ber­keyakinan begitu.

Mengapa?
Karena intinya politik Barat itu tidak suka dengan beliau yang bebas mendakwahkan Islam yang seluas-luasnya ke masayarakat, sehingga mereka berusaha untuk menahannya. Makanya menggu­nakan otoritas yang ada di sini.

Walaupun dalam hal ini, polisi menampikkan bahwa ini tidak menjalankan agen­da negara lain. Tapi tanda-tanda seperti itu sa­ngat terasa. Para pengamat politik maupun pengamat lain bisa mengetahui masalah ini.

Kapan ada rencana jenguk lagi?
Masih belum tahu. Karena ke­tika saya ke sana dari pihak ke­po­lisian memberitahu bahwa da­lam 7 hari tidak boleh men­je­nguk. Walaupun saya protes ke­napa kok nggak boleh. Tapi sudahlah saya tidak mau mem­permasalahkan itu. Karena tidak ada gunanya. Kalau rencana mau jenguk lagi mungkin se­telah tujuh hari itu. Selasa atau Rabu depan saya kesana.

Kalau jenguk apa sekeluarga atau sendiri?
Rencana sih sama keluarga. Tapi kami belum tahu, karena saya juga masih sibuk di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngru­ki (Solo), ada bebe­rapa acara yang bersamaan dengan Ramadhan. Kakak saya juga begitu. Sedang­kan Umi mungkin masih belum sempat ke sana. Wallahu A’lam kalau me­mang minggu depan berangkat, ya berangkat. Kalau nggak, mungkin minggu depan­nya lagi. Kalau saya sendiri sih, mungkin berangkat Selasa (17/8).

Lantas apa yang akan di­bawa ketika akan menjenguk lagi?
Kalau nggak salah Abi minta selimut. Tapi tadi Umi bilang, saya disuruh bawa selimut yang agak tebal yang biasa dipakai di rumah, dan beberapa obat-obatan yang lain. Karena beliau punya penyakit maag jadi mungkin madu saya bawakan juga.

Apa makanan kesukaannya dibawa?
Kita minta tolong kepada salah satu keluarga yang di Jakarta untuk dimasakin.

Memang apa sih kesukaan ma­kanan beliau?
Kalau beliau favoritnya pin­dang kambing. Kalau yang lain paling sayur untuk mengimbangi. Karena beliau memang suka sayur-sayuran.

Sayuran seperti apa sih?
Yang sifatnya lalap-lalapan. Kemudian kacang panjang dipo­tong-potong. Untuk mengim­bangi serat makanan seperti itu yang disukai.

Kalau polisi yang masak, nanti ada yang nggak tahu seleranya. Mungkin dibikin pedas atau gimana. Jadi nanti nggak cocok. Malah nggak karuan.

Jadi beliau nggak doyan pe­das ya?
Pedas sebenarnya doyan. Tapi sekitar hampir setengah tahun ini penyakit maagnya semakin pa­rah. Jadi beliau tampaknya meng­hin­dari itu, tidak mau makan pedas.

Bagaimana perasaannya saat Ramadhan seperti ini tidak ber­­sama Ayahnya?
Jelas kita merasa kehilangan, ada yang kuranglah. Kalau biasa­nya kita sahur dan buka, beliau ada bersama kita. Walaupun se­benarnya tidak begitu kehi­langan, karena sudah biasa beliau itu meninggalkan kami untuk ke­giatannya sendiri. Bahkan jatah untuk keluarga saja hanya sedikit. Karena saking banyaknya kegia­tan beliau yang tidak berhenti. Paling maksimal satu minggu itu, tiga hari beliau di rumah. Jarang­lah satu minggu penuh di rumah.

Mungkin faktor itu yang mem­buat tidak begitu terasanya. Tapi karena kehilangannya isti­mewa, jadi lain. Kalau dulu tidak di ru­mah karena acara. Sekarang tidak di rumah karena ditangkap polisi. Itu yang membuat kami sedih.

Biasanya kegiatan ayahnya  di bulan Ramadhan apa saja?
Biasanya kalau Ramadhan su­dah penuh kegiatan. Khusus 20 hari pertama. Sekarang aja sudah banyak yang meminta beliau. Tapi karena beliau ditangkap jadi batal semuanya.

Memang ada berapa acara?
Jumlah persisnya saya kurang tahu. Mungkin 15 pengajian dan ta­bligh. Karena beliau hanya me­ne­rima acara dua kali pertama Rama­dhan. Biasanya kalau sudah tang­gal 20, sudah tidak mau, ka­rena mau mendekati Idul Fitri.  [RM]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA