Sukoharjo selama ini tenang. Lalu berubah jadi lokasi syuting film komedi hitam. Rakyat belum sempat selesai ngopi, sudah disuguhi kabar yang bikin dahi berkerut sekaligus pengin ketawa getir.
Yang paling bikin penasaran bukan lagi Patung Elang Danadyaksa setinggi 8 meter di Jalan Ir. Soekarno, Solo Baru, melainkan enam koper hijau yang bikin seluruh Indonesia bertanya serempak, "Isinya apa, Bu? Buka dong!" Buka dikit, joss, ups.
Padahal elang itu bukan patung sembarangan. Dibuat dari 250 knalpot brong sitaan polisi dan diresmikan sendiri oleh Bupati Etik Suryani pada 2022.
Filosofinya keren. Knalpot nakal disulap menjadi simbol ketertiban. Tapi siapa sangka, beberapa tahun kemudian justru muncul cerita baru lebih berisik dari seluruh knalpot itu digas bareng-bareng di alun-alun. Bunyinya, nye..nye..nye..
Etik Suryani, perempuan kelahiran Surakarta, 15 Maret 1963, kini berusia 63 tahun. Beliau kader PDI Perjuangan yang pada Pilkada 2024 diusung 12 partai politik.
Dua belas, cak! Koalisinya segede rombongan Trump ke Ankara Turkiye. Hasilnya pun luar biasa. Beliau menang telak atas kotak kosong dengan 319.923 suara atau 66,76 persen. Bahkan lebih tinggi dibanding Pilkada 2020 yang meraih 266.500 suara atau 53,34 persen.
Rakyat sudah memberi mandat. Partai sudah memberi karpet merah. Penghargaan juga tidak sedikit.
Kariernya pun kinclong. Selama 27 tahun menjadi Kepala Cabang Bank Bumi Arta Tbk. Lulus Sarjana Ekonomi Universitas Surakarta pada 2010, kemudian Magister Manajemen STIE AUB Surakarta pada 2018.
Beliau juga dikenal sebagai Bunda PAUD, bahkan pernah menerima Satyalancana Wira Karya dari Presiden dan Anugerah PAUD Tingkat Nasional.
Harusnya kisah ini berakhir bahagia. Eh, malah berubah jadi episode "Enam Koper Hijau".
Kamis malam, 9 Juli 2026, sekitar pukul 21.00 WIB, KPK mengamankan Bunda Etik bersama empat orang lainnya di Solo Raya. Pemeriksaannya berlangsung di Mapolresta Surakarta hingga menjelang subuh.
Lalu muncullah bintang utama malam itu. Enam koper hijau.
Sekitar pukul 04.20 WIB, petugas membawa enam koper hijau jumbo beserta setumpuk berkas ke ruang pemeriksaan lantai dua.
Netizen langsung gagal fokus. Enam koper itu mendadak lebih terkenal dari koper pemain Maroko yang sudah dipulangkan Mbappe cs. Orang-orang bukan lagi bertanya MBG gimana, melainkan bertanya, "Bu... koper hijau itu isinya apa? Buka dong... jangan bikin penasaran satu republik."
Menurut penyidik, koper-koper itu diduga berkaitan dengan penyidikan kasus pemerasan terhadap perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.
Pukul 05.40 WIB, Si Etik keluar memakai kemeja putih, rompi hitam, celana jeans, masker hitam, dan kerudung hitam. Setelah itu naik bus biru menuju Bandara Adi Sumarmo untuk diterbangkan ke Jakarta. Wakil Ketua KPK, Fitroh Rohcahyanto, telah mengonfirmasi penangkapan tersebut.
Ironinya benar-benar level dewa. Sukoharjo punya Petilasan Kerajaan Pajang yang mengajarkan amanah. Lambang daerahnya memuat gunung sebagai simbol keteguhan dan air sebagai lambang kehidupan. Ada pula Alun-Alun Satya Negara yang berarti setia kepada negara. Simbol-simbol itu seolah sedang saling pandang sambil mengelus dada.
Sementara publik kini justru lebih hafal jumlah koper dari jumlah penghargaan yang pernah diterima Bu Etik.
LHKPN juga menunjukkan kekayaannya meningkat dari Rp6,23 miliar pada 2021 menjadi Rp9,12 miliar pada 2025, atau bertambah sekitar Rp3 miliar dalam empat tahun. Angka yang membuat rakyat kecil cuma bisa menatap saldo rekening sambil berkata, "Punya kami naiknya cuma biaya admin."
Kini KPK memiliki waktu 1x24 jam untuk menentukan status hukum Bu Etik. Sementara rakyat hanya bisa menatap Patung Elang Danadyaksa dan bergumam, "Dulu elang itu dibuat dari knalpot brong hasil sitaan. Sekarang yang paling berisik justru enam koper hijau.
Duh Bu Etik... kalau memang tak ada apa-apa, buka dong kopernya, biar yang penasaran tidak sampai mimpi ketemu koper hijau seminggu penuh."
Rosadi Jamani
Wartawan senior
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: