Di ruang yang sama hari ini, 5 Mei 2026, Kepala Badan Pusat Statistik, Amalia Adininggar Widyasanti, dengan senyum terukur mengumumkan: pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen (year on year). Tepuk tangan mungkin tidak terdengar, tetapi angka itu cukup untuk menjadi bahan optimisme.
Namun di luar ruangan itu, dapur rakyat tidak membaca grafik. Ia membaca harga.
Pertumbuhan 5,61 persen terdengar seperti kabar baik. Tetapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: siapa yang benar-benar tumbuh? Sebab dalam ekonomi, angka agregat sering kali menyembunyikan kenyataan yang lebih tajam.
Data menunjukkan bahwa pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan lonjakan belanja pemerintah. THR mengalir, program Makan Bergizi Gratis (MBG) digelontorkan, dan belanja negara meningkat signifikan. Ekonomi bergerak--tetapi didorong oleh dorongan fiskal.
Dalam logika sederhana, ketika negara membelanjakan uang dalam jumlah besar, aktivitas ekonomi memang meningkat. Warung ramai, jasa bergerak, konsumsi melonjak. Tetapi ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: apakah ini pertumbuhan yang berkelanjutan, atau sekadar dorongan sesaat?
Di saat yang sama, nilai tukar rupiah justru menunjukkan arah berbeda. Dalam satu tahun, rupiah melemah dari kisaran Rp16.300 menjadi mendekati Rp17.400 per Dolar AS. Pelemahan ini bukan sekadar angka--ia merembes ke seluruh sendi ekonomi.
Kurs yang melemah berarti impor menjadi lebih mahal. Gandum, kedelai, bahan baku industri--semuanya terdorong naik. Dan pada akhirnya, kenaikan itu berhenti di tempat yang paling sederhana: pasar tradisional.
Ironinya, di tengah pelemahan kurs, inflasi justru tercatat relatif rendah: 2,42 persen (year on year, April 2026). Angka ini berada dalam rentang target stabilitas. Secara makro, ini adalah kabar baik.
Namun inflasi adalah rata-rata. Ia tidak membedakan antara harga cabai yang melonjak dan harga barang elektronik yang stabil. Ia meratakan rasa sakit menjadi angka yang tampak jinak.
Di sinilah paradoks itu muncul. Ekonomi tumbuh 5,61 persen, inflasi terkendali di 2,42 persen, tetapi keluhan tentang mahalnya hidup tidak surut. Ada jarak antara statistik dan pengalaman.
Pertumbuhan berbasis konsumsi memiliki karakter khas: ia cepat muncul, tetapi juga cepat menghilang. Ketika dorongan fiskal berhenti, pertumbuhan berisiko ikut melambat. Tidak ada jaminan bahwa aktivitas yang tercipta hari ini akan bertahan esok.
Lebih jauh, pertumbuhan semacam ini tidak selalu menciptakan kapasitas produksi baru. Tidak otomatis membangun pabrik, tidak serta-merta meningkatkan efisiensi, dan tidak selalu membuka lapangan kerja berkualitas.
Dalam istilah sederhana, ekonomi bergerak--tetapi belum tentu menguat.
Di sisi lain, kurs tidak menunggu. Ia bereaksi terhadap pasar global, terhadap persepsi investor, terhadap ketahanan fundamental. Ketika rupiah melemah, efeknya langsung terasa tanpa perlu menunggu laporan statistik berikutnya.
Dapur rakyat memahami kurs dengan cara yang sangat konkret: harga minyak goreng, ongkos transportasi, dan biaya hidup sehari-hari.
Sementara itu, angka PDB tetap berdiri tegak sebagai simbol keberhasilan. Ia menjadi headline, menjadi bahan pidato, menjadi legitimasi bahwa ekonomi berada di jalur yang benar.
Namun angka tidak pernah memasak nasi. Dalam realitas sehari-hari, rakyat tidak mengonsumsi pertumbuhan ekonomi. Mereka mengonsumsi barang dan jasa yang harganya terus bergerak. Dan di situlah kurs memiliki pengaruh yang lebih nyata dibandingkan PDB.
Inflasi yang rendah pun tidak selalu berarti harga murah. Ia hanya berarti kenaikan harga tidak secepat sebelumnya. Bagi banyak orang, “tidak naik cepat” tetap terasa sebagai “tetap mahal”.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: indikator makro tidak selalu sinkron dengan kesejahteraan mikro.
Ketika negara membelanjakan uang untuk mendorong konsumsi, pertumbuhan memang tercipta. Tetapi tanpa penguatan produksi, tanpa stabilitas kurs, dan tanpa peningkatan daya beli riil, pertumbuhan itu menjadi rapuh.
Pada akhirnya, dapur rakyat menjadi indikator yang paling jujur. Ia tidak mengenal istilah year on year, tidak memahami basis poin, dan tidak peduli pada metodologi statistik.
Ia hanya tahu satu hal: apakah hari ini lebih mudah atau lebih sulit dibanding kemarin.
Dan mungkin di situlah kesimpulan paling tajam bisa ditarik: Pertumbuhan boleh 5,61 persen, inflasi boleh 2,42 persen, tetapi jika kurs melemah dan harga terasa naik, maka yang benar-benar “berbicara” bukanlah angka--melainkan isi piring rakyat.
Dr. Ariadi MSi
Akademisi dan praktisi dari Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU)
BERITA TERKAIT: