Baru kali ini, jabatan dalam tubuh TNI yang terkenal super komando itu pakai istilah “mengundurkan diri”. Lah, ini institusi militer atau kantor
startup? Langsung muncul bisik-bisik netizen, ini mundur beneran atau “dimundurkan dengan sopan”?
Letjen Yudi Abrimantyo resmi melepas jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada Rabu, 25 Maret 2026. TNI bilang ini bentuk pertanggungjawaban atas ulah oknum prajurit BAIS yang diduga menyiram aktivis KontraS, Andrie Yunus, dengan air keras.
Empat prajurit sudah diamankan, diproses di Puspom TNI. Sementara sang jenderal pamit dengan istilah elegan, “penyerahan jabatan”. Istilah yang rasanya setara dengan kalimat, “kita break dulu ya,” padahal salah satu pihak sudah uninstall perasaan.
Masalahnya, ini bukan drama receh. Ini badan intelijen strategis. Levelnya harus main di dunia senyap, penuh taktik kelas dewa. Eh, yang muncul malah adegan siram-siraman pakai cairan pemakan daging. Ini bukan air galon isi ulang, ini air keras.
Bukan konten prank TikTok yang bisa dihapus kalau kena report. Ini aksi yang bikin orang trauma keluar rumah hanya karena menjalankan kerja advokasi HAM.
TNI langsung bergerak cepat. Pelaku ditangkap, pimpinan “bertanggung jawab”. Sekilas terlihat keren. Institusi besar, responsnya tegas. Tapi kalau dipikir lagi, masa iya satu kursi kosong bisa menghapus luka bakar di tubuh korban? Kayak ngehapus dosa pakai tombol reset.
Padahal kata KontraS dan Andrie Yunus sendiri, ini baru permukaan. Dalang intelektualnya siapa? Motifnya apa? Apakah ini aksi liar oknum, atau ada rantai komando yang lebih panjang dari antrean proyek negara?
Yang lebih absurd, saat ditanya apakah ini mundur atau dicopot, Kapuspen TNI malah menghindar dari konferensi pers. Entah karena takut salah ngomong, atau memang naskahnya belum final. Publik disuguhi pertunjukan setengah matang. Aktor sudah keluar panggung, tapi plotnya masih digantung.
Di satu sisi, kita patut kasih kredit. Jarang-jarang ada institusi sebesar TNI yang langsung menunjukkan “atasan ikut tanggung jawab”. Biasanya, yang kena ya level bawah saja.
Sementara atasannya tetap duduk manis sambil bilang, “itu di luar kendali saya.” Kali ini beda, kursi Kabais ikut goyang. Lumayan, ada rasa keadilan, meski baru secuil.
Tapi di sisi lain, skeptisisme publik juga valid. Karena kita sudah terlalu sering nonton episode yang sama. Oknum lapangan dihukum.
Pimpinan digeser halus. Lalu, kasusnya pelan-pelan tenggelam. Besok-besok muncul lagi cerita serupa dengan judul baru, aktor baru, tapi naskahnya copy-paste.
Sementara itu, Andrie Yunus tetap harus menghadapi dampak nyata dari kejadian ini. Luka fisik, trauma psikologis, dan rasa tidak aman yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu konferensi pers dan satu “penyerahan jabatan”.
Ini bukan soal citra institusi, ini soal manusia yang diserang dengan cara brutal.
So, kita sekarang ada di titik klasik Indonesia banget. Panggung pertanggungjawaban megah. Dialognya terdengar meyakinkan. Tapi, endingnya masih abu-abu.
Apakah ini awal dari pembongkaran besar sampai ke akar? Atau cuma pergantian pemain supaya cerita cepat dilupakan?
Semoga saja ini bukan sekadar ganti aktor utama. Karena kalau hanya itu, siap-siap saja kita nonton sekuelnya, “Penyerahan Jabatan Jilid 2”.
Seperti biasa, penontonnya tetap kita-kita lagi, duduk, geleng-geleng kepala, sambil berharap kali ini plot twist-nya benar-benar bernama keadilan.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: