Selamat Idul Fitri
Selamat Idul Fitri Mudik

Energi: Instrumen Kolonialisme Israel

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ahmadie-thaha-5'>AHMADIE THAHA</a>
OLEH: AHMADIE THAHA
  • Kamis, 26 Maret 2026, 23:19 WIB
Energi: Instrumen Kolonialisme Israel
Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)
DI tengah dentuman bom, headline media, dan retorika perang yang membelah langit Timur Tengah, ada satu suara yang nyaris tak terdengar. Suara ini tidak meledak, tidak berasap, tapi justru paling menentukan. Itulah suara aliran gas.

Ya, gas. Bukan gas air mata, bukan gas politik. Ini gas alam, yang mengalir diam-diam dari perut Laut Mediterania, tapi efeknya bisa membuat satu negara gelap gulita, dan negara lain tiba-tiba patuh seperti siswa telat upacara.

Perang AS+Israel vs Iran membuka tabir yang selama ini tersembunyi rapi di balik jargon “kerja sama energi regional.” Seorang pengamat, Hisham Bustani, peneliti di Centre for International Studies, Sciences Po, Prancis, mengingatkan bahwa Israel sedang membangun apa yang bisa disebut sebagai hegemoni energi kawasan.

Dan ini bukan teori. Ini angka. Israel hari ini memproduksi sekitar 20-22 miliar meter kubik (bcm) gas per tahun dari ladang utama seperti Leviathan (±12 bcm/tahun) dan Tamar. Untuk ukuran negara kecil, ini bukan sekadar cukup. Ini surplus yang bisa dijadikan alat pengaruh pada tetangga sekitar.

Sekarang kita lihat tetangganya. Mesir, yang dulu raksasa gas, produksinya turun ke sekitar 49,3 bcm pada 2024. Ini produksi terendah dalam enam tahun. Tapi kebutuhan dalam negerinya melonjak. Akibatnya, Mesir mengimpor sekitar 14,6 bcm gas per tahun. Dan sekitar 10 bcm, atau hampir 70 persen darinya, diimpornya dari Israel. Bahkan ada kontrak jangka panjang senilai sekitar 35 miliar dolar AS hingga 2040.

Yordania lebih tragis lagi. Produksi domestik negara tetangga Israel ini hanya mencukupi kurang dari 5 persen kebutuhan gasnya. Sisanya, sekitar 3,6 bcm per tahun, diimpor lagi-lagi mayoritas dari Israel. Artinya, jika Israel mematikan keran, Yordania bukan sekadar gelap. Ia bisa lumpuh total.

Gas ini lalu mengalir lewat Arab Gas Pipeline, jaringan sepanjang lebih dari 1.200 km, dari Israel ke Yordania, ke Mesir, dan berpotensi ke Suriah serta Lebanon. Dulu jaringan ini jadi simbol solidaritas Arab. Kini ia seperti kabel ekstensi raksasa dengan satu colokan utama berada di tangan Israel.

Dan di sinilah plot twist-nya. Ketika Israel menghentikan produksi di ladang Leviathan di laut Haifa, seluruh jaringan ini ikut lumpuh. Ini bukan metafora. Ini kejadian nyata.

Pada 2025, dalam perang 12 hari di bulan Juni, ladang Leviathan sempat ditutup selama 13 hari. Hasilnya? Pasokan ke Mesir dan Yordania langsung terhenti. Krisis energi melanda seketika. Rencana darurat diaktifkan. Dan yang paling menarik adalah suplai ke Suriah langsung dipangkas. Seolah-olah satu tombol di laut Mediterania ditekan, dan lampu di Damaskus ikut padam.

Jadi, ketika orang bertanya, “Mengapa Gaza begitu mudah dilumpuhkan?” Jawabannya bukan hanya karena bom dan blokade. Tapi karena sejak awal, struktur energi kawasan sudah dikunci Israel. Listrik, air, bahan bakar, semuanya bisa diputus oleh negeri Zionis ini. Dan yang memegang saklar itu bukan negara Arab, tapi Israel.

Inilah yang oleh Bustani dibaca sebagai “energi sebagai instrumen kolonialisme modern”. Ia tidak datang dengan tank. Ia mengalir dengan pipa, menjadi mesin penjajahan tak hanya atas Palestina, tapi juga negara-negara tetangga lainnya.

Iran tampaknya memahami ini. Maka dalam eskalasi perang terbaru, target serangan rudal-rudal besar Iran bukan hanya pangkalan militer, tapi juga infrastruktur energi Israel. Ia membakar kilang, terminal, dan fasilitas gas Israel. Karena dalam logika perang modern, menghantam satu bcm pasokan energi bisa lebih efektif dari menghancurkan satu divisi tank.

Memang belum jelas seberapa besar kerusakan pusat-pusat energi Israel akibat serangan itu. Tapi respons regional sudah cukup berbicara. Begitu pasokan Israel terganggu, Yordania dan Mesir langsung mengurangi atau menghentikan suplai ke Suriah karena pasokan dari Israel terhenti atau terganggu. Artinya, bahkan tanpa kehancuran total, sistem ini sudah menunjukkan siapa yang memegang kendali.

Yang lebih ironis, bahkan ketika Mesir mengimpor LNG dari pasar global melalui Aqaba, gas itu tetap masuk ke jaringan yang sama di bawah kendali Israel. Ia bercampur dengan gas Israel, lalu didistribusikan ulang. Secara teknis, sulit dipisahkan. Secara politik, mustahil dihindari. Seperti kopi susu di warung, kita tidak pernah tahu mana kopi, mana susu. Yang jelas, tetap harus diminum.

Sementara itu, Suriah dan Lebanon sebenarnya duduk di atas cadangan gas yang besar. Potensinya sekitar 280 bcm di darat untuk Suriah, 250 bcm di offshore, dan hingga 700 bcm offshore untuk Lebanon. Tapi semua itu masih bayang-bayang masa depan. Belum jadi listrik. Belum jadi kedaulatan.

Yang tersedia hari ini barulah ketergantungan. Dan seperti semua ketergantungan, ia datang dengan harga yang mahal. Kedaulatan kedua negara perlahan dicicil, tanpa terasa, dan bahkan berada di bawah kendali Israel.

Sejarah sudah mengajarkan pola ini. Rusia menggunakan gas untuk menekan Eropa. Amerika menggunakan minyak dan dolar untuk mengatur dunia. Dan kini Israel, dengan skala lebih kecil tapi dampak regional, menggunakan gas untuk mengunci Timur Tengah.

Jadi, ketika kita melihat perang ini hanya sebagai konflik militer, kita sedang melihat permukaan laut tanpa memahami arus bawahnya.

Yang bertarung bukan hanya jet tempur dan rudal. Tapi juga kontrak senilai miliaran dolar, jaringan pipa sepanjang ribuan kilometer, dan aliran gas dalam satuan bcm yang diam-diam menentukan nasib jutaan manusia.

Perang ini bukan hanya soal siapa yang menang di medan tempur. Tapi siapa yang menyalakan dan mematikan lampu di rumah-rumah rakyat. Dan di situlah letak tragedinya. Karena pada akhirnya, yang padam bukan hanya listrik. Tapi juga kedaulatan.rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA