Perang Iran vs Israel-AS sejak 28 Februari 2026 itu kalau dilihat sekilas memang seperti film
blockbuster.
Ada rudal, jet tempur, dan ledakan yang bikin langit seperti kembang api versi kiamat. Tapi yang tidak kelihatan justru yang paling berbahaya.
Di balik semua itu, ada perang senyap, perang hacker. Di mana tombol keyboard bisa lebih mematikan dari peluncur misil. Satu baris kode bisa bikin satu negara tiba-tiba seperti “dicabut colokannya dari dunia.”
Seperti biasa, yang mulai duluan bukan yang paling ribut, tapi yang paling licik.
Sebelum bom pertama jatuh, Amerika dan Israel sudah lebih dulu menyerang lewat dunia maya.
USCYBERCOM dan USSPACECOM menjalankan operasi “non-kinetik.” Bahasa elite untuk mengatakan, kita bikin dia buta dulu, baru dihajar.
Targetnya bukan tentara, tapi sistem. BGP dirusak, DNS diganggu, SCADA dihantam. Hasilnya? Internet Iran anjlok sampai 4 persen. Ini bukan sekadar lemot, ini sudah level “negara masuk mode pesawat”.
Yang paling absurd sekaligus jenius adalah operasi kamera lalu lintas di Tehran. Ribuan CCTV yang harusnya cuma nangkep pemotor cabe-cabean, malah dijadikan alat intelijen.
Selama bertahun-tahun, pergerakan elite Iran dipantau diam-diam, termasuk Ayatollah Ali Khamenei. Ketika serangan udara dimulai, target sudah seperti titik di Google Maps, tinggal klik.
Di sini kita belajar satu hal penting, teknologi pengawasan itu bukan cuma soal keamanan, tapi juga soal siapa yang pegang password. Kalau password-nya “admin123”, ya siap-siap saja negara ikut diretas.
Efeknya brutal. Situs pemerintah Iran tumbang, media negara disusupi. Bahkan, aplikasi doa
BadeSaba Calendar ikut dibajak untuk menyebarkan propaganda.
Nuan bayangkan! Orang buka aplikasi buat cari pahala, malah dapat notifikasi politik. Dunia sudah bukan lagi abu-abu, ini sudah glitch.
Iran tentu tidak tinggal diam. Tapi masalahnya, di hari kedua perang, pusat komando siber IRGC dihajar. Harusnya ini bikin lumpuh.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Chaos yang terorganisir. Lebih dari 60 kelompok hacktivist pro-Iran muncul dalam hitungan jam di Telegram. Ini bukan lagi perang resmi, ini sudah jadi “open recruitment” hacker global.
Mereka tidak digerakkan langsung oleh negara, tapi oleh ideologi. Seperti biasa, kalau ideologi sudah lepas dari kontrol, hasilnya lebih liar.
Serangan mereka banyak yang tipe DDoS dan deface, berisik, acak, tapi tetap berbahaya. Ibaratnya bukan satu bom besar, tapi ribuan petasan dilempar ke semua arah.
Di antara mereka, ada satu nama yang bikin merinding, Handala. Ini bukan hacker cari uang, tapi hacker cari pesan. Mereka fokus pada penghancuran data.
Pada 11 Maret 2026, mereka menyerang perusahaan medis AS, Stryker. Klaimnya tidak tanggung-tanggung. Lebih dari 200.000 sistem dihapus, 50 terabyte data dicuri, dan kerugian mencapai 6-8 miliar dolar AS. Ini bukan serangan siber biasa, ini penghapusan massal ala kiamat digital.
Yang bikin makin kacau adalah peran AI. Dulu, hacking butuh keahlian tingkat dewa. Sekarang? Cukup tanya AI. Mau cari celah sistem industri? Bisa.
Mau tahu password default? Tinggal tanya. Bahkan, kueri Shodan dan protokol PLC bisa dijelaskan dalam satu percakapan. Dunia berubah jadi seperti game yang semua orang punya cheat code.
Ironisnya, ketika AI mulai kerja sama dengan militer, publik marah. Instalasi aplikasi turun sampai 295 persen, ulasan bintang satu naik 775 persen. Tapi protesnya tetap lewat internet. Ini seperti demo anti listrik tapi pakai pengeras suara.
Sementara itu, dampak perang siber makin luas. Dalam periode 7?"9 Maret saja, tercatat 368 insiden di 12 negara, dengan Israel menanggung hampir setengahnya.
Targetnya tidak main-main. Air bersih, listrik, bank, rumah sakit, transportasi. Hacker Iran sempat menguasai monitor kereta di Israel. Lalu, menampilkan pesan palsu untuk memicu panik. Ini bukan perang, ini teater kekacauan.
Yang lebih gila lagi, muncul “serangan campuran”. Drone menyerang pusat data AWS di Bahrain dan UEA. Bikin listrik padam dan layanan terganggu. Sekarang, server tidak cuma diretas, tapi juga bisa “dijemput” langsung pakai drone. Efisiensi ala zaman modern.
Lalu siapa yang menang? Jawabannya pahit, tidak ada. Israel dan AS unggul di awal dengan melumpuhkan sistem Iran. Tapi, Iran membalas lewat jaringan proksi. Sekitar 50 bisnis Israel terdampak, dan serangan tetap berjalan meski pusat komando hancur.
Kesimpulannya sederhana tapi mengerikan. Dunia ini sudah tidak punya garis depan. Perang tidak lagi butuh tank di jalan, cukup koneksi internet yang stabil.
Di era ini, mungkin yang paling menakutkan bukan suara ledakan, tapi notifikasi kecil yang muncul diam-diam, “Your system has been compromised.” Karena bisa jadi, itu bukan cuma sistem. Tapi seluruh hidup yang tiba-tiba ikut diretas.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: