Berita Duka : RIP Bpk.Dudi Sudibyo (Eks Wartawan Kompas-Angkasa)
Inna Lillahi Wa Inna Ilayhi Rooji'uun
Telah berpulang ke Rahmatullah Eyang, Uwa, Om, kakak, adik, sepupu kami Roesdiono Soedibyo bin Soedibjo Wirjowerdojo pada hari senin tgl. 16 maret 2026 jam 01.00 WIB di kediaman Jakarta karena sakit.
Rumah duka Jl. Damai komplek kompas D2 Pesanggrahan Jakarta Selatan Rencana dimakamkan menyusul. Mohon dimaafkan segala kesalahan Almarhum.Semoga Almarhum mendapatkan tempat yang sebaik-baiknya disisi Allah SWT. Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa'afihi Wafuanhu
Aamiin Yaa Robbal Alamin. Kami yang berduka cita :
- Tati Hartati (istri)
- Intan Agustina dan Magyartoto Tersiawan (anak dan menantu)
* Alm Rudi dan Andy (anak - menantu)
- Aditya Pribadi dan Eka Kartika (anak dan menantu). Keluarga besar Almarhum
Cucu-cucu:
- Fira Disyacita
- Hana Khansa Putri
- AthayaDudi Sudibyo adalah wartawan
Kompas dan majalah
Angkasa yang saya kenal cukup dekat sejak lebih kurang 35 tahun lalu. Wartawan
Kompas yang bersama Pak Ninok Leksono saya kenal akrab karena keduanya sering menggarap berita berita kedirgantaraan, khususnya liputan kegiatan di Angkatan Udara.
Banyak sekali kenangan kegiatan bersama almarhum dalam perjalanan hidup saya, terutama di saat masih dinas aktif di TNI Angkatan Udara sampai dengan kurun waktu saya sudah purna tugas.
Di tahun 1992 ketika saya menjabat sebagai Komandan Wing Taruna AAU melaksanakan kunjungan muhibah Taruna AAU ke Australia, saya mengajak Dudi Sudibyo turut serta. Dengan demikian maka liputan kegiatan taruna AAU dimuat di koran
Kompas dan juga sekaligus di majalah
Angkasa.
Tahun 2007, dua tahun setelah pensiun dari Angkatan Udara ketika saya diundang Presiden ke Istana Merdeka untuk berdiskusi tentang dunia penerbangan nasional, saya mengajak Dudi Sudibyo turut serta mendampingi saya.
Masih banyak lagi kenangan kebersamaan saya dengan Dudi Sudibyo, antara lain secara berkala mengunjunginya di kantor redaksi majalah
Angkasa untuk berpartisipasi mengisi artikel untuk majalah
Angkasa.
Tahun 2007 saya dan Prof Priyatna Abdurrasyid pakar hukum penerbangan internasional bersama Dudi Sudibyo selaku wartawan senior
Kompas yang ketika itu lebih banyak aktif di majalah
Angkasa hadir dalam sidang pembacaan vonis putusan pengadilan di Yogyakarta untuk Capt. Pilot Marwoto.
Kehadiran kami bertiga adalah sebagai rasa simpati bagi pilot Garuda yang dipidanakan terkait kecelakaan pesawat terbang Garuda di Yogyakarta. Dari sekian banyak kenangan saya bersama Dudi Sudibyo yang sangat mengesankan adalah ketika saya dibantu meliput berita besar tentang peran Angkatan Udara saat menegakkan kedaulatan negara di udara.
Berita tentang pesawat F-16 Angkatan Udara meng-
intercept pesawat F-18 US Navy di perairan kepulauan Bawean tahun 2003.
Dikutip dari arsip harian
Kompas, 4 Juli 2003 sebagai berikut:?
Lima pesawat F-18 AS Bermanuver di Bawean?Lima pesawat tempur F-18 Hornet Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dipergoki oleh sebuah pesawat penumpang di atas utara pulau Bawean, Jawa Timur, Kamis (3/7/2003) sore.
Pilot pesawat penumpang kemudian melaporkan temuannya itu kepada menara Surabaya dan Jakarta. Radar Bandar Udara Juanda maupun Soekarno Hatta secara bersamaan juga menangkap adanya kelima pesawat tempur tersebut di lokasi yang sama.
Sumber Kompas semalam mengungkapkan, kelima jet tempur AS yang berasal dari salah satu kapal induk yang sedang konvoi dengan sejumlah kapal perang di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) itu ketika berpapasan dengan pesawat penumpang tersebut sedang melakukan manuver dengan bebas di atas wilayah udara Republik Indonesia.
Menurut sumber tadi papasan dadakan itu terjadi sekitar pukul 15.00. Laporan yang diberikan pilot pesawat penumpang tersebut kemudian langsung disampaikan kepada Komandan Pertahanan Udara Nasional.
Ditambahkan, pihak TNI Angkatan Udara (AU) juga menangkap pergerakan pesawat-pesawat AL AS tersebut. Namun, belum jelas apakah ada pesawat yang dikirim oleh TNI AU ke Lokasi Bawean.
Sumber juga menyebutkan bahwa manuver jet-jet tempur F-18 itu berlangsung sekitar dua jam. Namun, dia tidak bisa memberi keterangan macam apa manuver-manuver yang dilakukan oleh kelima Hornet yang sedang mengawal konvoi kapal perang AS tersebut.
Juga belum jelas ke wilayah mana konvoi itu sedang menuju. Namun kuat dugaan, kapal-kapal tersebut sedang menuju ke Timur Tengah, menuju perairan Irak.(ds)??Demikianlah kisah catatan sejarah heroik dari betapa rawannya wilayah udara NKRI yang selalu saja banyak diterobos penerbangan gelap tanpa izin. Sampai sekarang catatan radar pertahanan udara mencatat banyak pelanggaran wilayah udara terjadi di atas wilayah udara Ibu Pertiwi.Dudi Sudibyo telah mengajarkan kita bahwa seorang wartawan bisa menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya menjaga kedaulatan bangsa. Melalui catatan-catatan detailnya, seperti peristiwa
intercept F-16 TNI AU terhadap F-18 AS di Bawean tahun 2003, beliau tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga membuka mata publik tentang dinamika dan tantangan di wilayah udara Ibu Pertiwi tercinta.
Kini, langkahnya telah terhenti, namun gema karya jurnalistiknya akan terus bergaung, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga setiap jengkal langit Indonesia. Tulisan-tulisan Dudi Sudibyo di harian
Kompas dan majalah
Angkasa akan abadi menjadi referensi dan inspirasi, terutama dalam menyuarakan kedaulatan negara di udara.
Terima kasih atas dedikasi, ketulusan, dan persahabatan yang telah diberikan selama lebih dari tiga dekade. Semua kenangan manis, liputan heroik, dan kebersamaan sederhana di ruang redaksi maupun di tengah kesibukan tugas pasti akan terus menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah, mengampuni segala khilaf, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Amin. Selamat beristirahat dalam damai, Pak Dudi. Doa kami mengiringi kepergian bapak. Semoga catatan perjalanan hidup Pak Dudi yang penuh makna akan selalu menjadi penerang di alam keabadian.
Pendiri Pusat Studi Air Power Indonesia
BERITA TERKAIT: