Melalui Selat Hormuz, 20 persen kebutuhan minyak dunia dipasok. Sebanyak 25 persen gas juga berasal dari jalur laut yang lebarnya hanya sekitar 33-39 KM ini.
Ketika selat Hormuz ditutup, krisis energi global terancam. Terjadi defisit pasokan oil dan gas yang berpotensi menciptakan sunami ekonomi dan politik dunia. Inilah yang terjadi saat ini.
Setelah serangan Amerika dan Israel ke Iran yang menewaskan Ayatullah Ali Khimaeni akhir Februari lalu, Iran melakukan balasan. Tak kalah dahsyat. Pangkalan militer Amerika di semua negara teluk dirudal.
Mulai dari Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Emirat Arab, Dubai hingga Bahrain dihancurkan oleh Iran. Rudal Iran sukses merusak hampir seluruh pangkalan militer Amerika di kawasan teluk ini.
Dampak yang lebih dahsyat akibat rudal ini adalah ditutupnya Selat Hormuz. Sebuah strategi jitu. Langkah ini tidak hanya menyulitkan Amerika dan Israel, tapi berakibat langsung pada guncangan ekonomi dan politik dunia.
Selat Hormuz tutup, krisis energi terjadi dan mulai menggoyang berbagai negara. Para pengekspor minyak dari teluk panik, dan bahkan paranoid.
Di sisi lain, tak ada satupun negara yang punya nyali dan kemampuan menahan serangan Amerika dan Israel ke Iran yang menjadi penyebab perang yang mengakibatkan Selat Hormuz diblokade.
Sebuah konsekuensi serangan yang mungkin tak pernah diprediksi bahkan oleh Amerika sendiri. Perang yang diskenariokan berakhir tiga hari, ternyata berdurasi panjang. Bahkan bisa sampai enam bulan atau lebih.
Perang teluk telah meledak. Dimulai tanggal 28 Februari lalu. Perang telah membawa kematian tidak saja tentara, tapi korban terbanyak adalah masyarakat sipil.
Begitulah yang terjadi di setiap ada perang. Rakyat jadi korban. Pelaku perang tak pernah peduli dan jauh dari kata empati. Perang itu urusan politik, kekuasaan dan uang. Mengabaikan segala bentuk penderitaan rakyat.
Pasca penyerangan oleh Amerika dan Israel, Iran bersumpah: akan memberi balasan yang menyakitkan. Iran berniat membuat perang dalam durasi yang lebih panjang.
Bagi Iran, ini bukan saja soal menang atau kalah, tapi ini soal harga diri bangsa Persia dan masa depan negara berpenduduk Syiah ini.
Bagi Iran, perang ini adalah momentum untuk mengkhiri dominasi, bahkan penjajahan Amerika dan Israel di wilayah teluk. Dari perang ini, geopolitik dan tatanan dunia diharapkan berubah.
Iran siap berperang hingga lebih dari enam bulan kedepan. Jika langkah dan pilihan strategi ini benar-benar berjalan sesuai rencana, maka ini berpotensi membuat banyak negara tumbang.
Semua dimulai dari Selat Hormuz. Dari sini krisis energi terjadi. Semua negara terdampak. Rakyat marah dan yang mereka salahkan adalah para pemimpin negara. Para pemimpin dianggap tidak bisa menjamin kebutuhan dan hajat hidup rakyatnya.
Setelah konflik teluk pecah, Indonesia menetapkan Siaga 1. Tidak hanya Indonesia, para pemimpin negara yang punya ketergantungan minyak dari teluk semua mengalami depresi. Termasuk Amerika sendiri, juga negara-negara yang bergabung dalam NATO.
Situasi ini tidak hanya dialami oleh negara pengekspor minyak. Hal yang sama juga akan dialami oleh negara penyuplai minyak. Seperti Saudi, Kuwait, Qatar, Dubai, UEA dan Bahrain, negara-negara kaya minyak ini juga berpotensi ikut kolaps.
Negara teluk selama ini bergantung hidupnya dari penjualan minyak. Ketika minyak tidak bisa dijual, negara-negara penghasil minyak ini juga akan terkapar.
Jika Iran bisa bertahan saja dari gempuran Amerika dan Israel, serta mampu terus menutup Selat Hormuz hingga enam bulan kedepan, kemungkinan kita akan menjadi saksi terhadap adanya ledakan politik di banyak negara.
Kita akan menyaksikan sejumlah pemimpin negara yang tumbang. Baik pemimpin negara pengimpor minyak maupun negara ekportir.
Bagi negara-negara teluk, risikonya bisa lebih besar lagi. Bukan hanya para pemimpin yang jatuh karena krisis ekonomi.
Bisa jadi, situasi ini akan mendorong perubahan yang lebih fundamental yaitu perubahan sistem ketatanegaraan. Ledakan politik negara teluk dapat mendesak terjadinya perubahan total dari sistem kerajaan ke sistem demokrasi.
Kembali ke Selat Hormuz. Iran memberi dua klausul bagi negara yang ingin kapal tankernya melewati Selat Hormuz. Pertama, mengusir duta besar Amerika dan Israel dari negaranya. Kedua, mereka bersedia untuk bertransaksi dengan menggunakan mata uang Yuan.
Dengan menutup Selat Hormuz, Iran memberi ruang bagi Rusia, mitra strategisnya untuk membuka pasar alternatif bagi kebutuhan minyak dunia.
Sementara, klausul transaksi menggunakan Yuan akan memberi peluang terhadap China, mitra strategis Iran lainnya untuk menyaingi dominasi dolar Amerika.
Menutup Selat Hormuz dengan dua klausul di atas merupakan strategi cerdas Iran yang multi fungsi.
Pertama, langkah Iran ini akan mendorong negara-negara yang krisis energi ini untuk bersitegang dengan Amerika dan Israel. Kedua, Iran memberi keuntungan bagi dua mitra strategisnya yaitu Rusia dan China.
Ini sekaligus menjadi langkah konsolidasi strategik yang efektif dalam menghadapi dominasi Amerika dan Israel. Jika langkah ini berhasil, maka tatanan dunia akan berubah.
Tony RosyidPengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
BERITA TERKAIT: