Ketika Juru Damai Mengoyak Perdamaian

Senin, 02 Maret 2026, 01:15 WIB
Ketika Juru Damai Mengoyak Perdamaian
Ilustrasi. (Foto: BBC)
SERANGAN Israel yang dibekingi oleh Amerika Serikat (AS) ke Teheran dan beberapa kota lain di Iran pada Sabtu kemarin (Kompas, 28/2) bukanlah sesuatu yang bersifat mengejutkan. Mimpi supremasi Pax Americana yang dibangun oleh AS di bawah Donald Trump adalah sebuah keniscayaan yang diejawantahkan melalui langkah unilateralistis dan koersif di panggung global dengan tanpa sungkan menghabiskan sumber daya nasional sendiri dan menyingkirkan kritik warga negara di level domestik. 
 
AS di bawah Donald Trump membolak-balikkan definisi perdamaian, mendekonstruksi lembaga perdamaian global seturut kepentingan sendiri, serta memporakporandakan stabilitas kawasan Timur Tengah yang akan berdampak domino secara global. Serangan duo Zionis dunia ke tanah Bangsa Persia menjadi semacam penegas bahwa klaim perdamaian yang diusung oleh Board of Peace (BoP)-di mana AS dan Israel menjadi inisiatornya, hanyalah langkah retorika diplomasi dan ilusi nyata bagi perdamaian dunia.
 
Diplomasi AS By-Design dan Kesiapan Iran untuk Berperang
 
Proses negosiasi dan diplomasi yang terjadi di antara AS dan Iran dengan difasilitasi dan mediasi oleh Oman di Muscat dan Jenewa dalam beberapa pekan terakhir sejatinya hanyalah basa-basi politik yang dimainkan oleh AS untuk melegitimasi serangan militer yang akan dilakukan. Lazim dalam praktik hubungan internasional bahwa peperangan adalah bentuk dari kegagalan di meja diplomasi. Secara faktual, diplomasi yang dimainkan oleh AS terhadap Iran sudah berakhir tatkala AS sendiri memobilisasi kekuatan militer secara penuh ke Kawasan Teluk untuk memaksa Iran menyetujui poin-poin perundingan selama diplomasi dilakukan. 
 
Dalam konteks ini, publik global dapat menilai bahwa AS pada dasarnya sudah tidak memiliki niat baik untuk mewujudkan perdamaian. Niat buruk AS di meja perundingan makin tercemar tatkala Israel melalui Benjamin Netanyahu melakukan agitasi dan propaganda dengan menyisipkan klausul-klausul yang dimaksudkan untuk membuat perundingan menemui jalan buntu (deadlock).
 
Iran-sebuah bangsa dan negara (nation-state) yang terlatih menghadapi peperangan baik secara konvensional maupun modern, sudah meramalkan bahwa perang frontal adalah suatu hal yang tidak bisa dihindarkan lagi. Oleh karenanya, ketika AS mengawal diplomasi melalui pengerahan kekuatan militer secara penuh ke Kawasan Teluk, Iran meresponsnya dengan langkah simetris-menggelar latihan militer serupa, menyiagakan seluruh armada tempur dan personel militer, dan mengamankan pemimpin tertinggi Ayatullah Rohullah Ali Khamenei ke tempat yang aman. Iran sesungguhnya membuka peluang damai dengan menyatakan komitmen kesediaan untuk diinspeksi kembali oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). 
 
Iran juga sangat terbuka dikroscek oleh kekuatan eksternal bahwa mereka mengembangkan nuklir untuk kepentingan damai, bukan membangun sistem persenjataan nuklir. Hanya saja Iran tak bisa tunduk dengan kemauan anarkistis AS dan Israel untuk memaksanya mengaku sebagai “kepala suku” dari semua pergerakan militan di kawasan yang menolak eksistensi dan perilaku biadab Israel terhadap Bangsa Palestina. 
 
Pada akhirnya, kalkulasi jernih yang dilakukan oleh para pemimpin spiritual, politik, dan militer Iran menjadi kompas kebijakan untuk merespons secara cermat dan akurat agresi dan invasi yang dilakukan oleh Israel dan AS pada Sabtu kemarin. Dengan bahasa lugas; Iran sangat siap menghadapi peperangan.
 
Perang dalam Timbangan Moral dan Rasional
 
Serangan Israel dan AS ke Iran bukanlah peringatan perdamaian. Yang dilakukan oleh keduanya lebih menjurus pada upaya untuk menghancurkan, merusak nilai dan tata perdamaian, dan realitas nyata prinsip homo homini lupus dan animus dominandi dalam praktik bernegara. Keduanya bermain tiki-taka perang secara kotor dengan memuat intensi untuk membunuh pemimpin Iran- Khamenei dan Pezeshkian, menghancurkan pusat pengayaan nuklir dan fasilitas militer yang menampung rudal, serta meluluhlantakkan armada perang Iran. 
 
Tiki-taka kotor dalam peperangan yang dilakukan oleh keduanya tentu menegasikan hal-hal yang sifatnya sakral dalam peperangan; hukum humaniter dan hukum perang internasional. Serangan yang dilakukan secara brutal ke wilayah Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, dan tentu saja ibukota Teheran telah melukai warga sipil yang tidak berdosa-tercatat 51 siswi sekolah dasar tewas, merusak fasilitas publik seperti rumah sakit dan tempat ibadah yang dilindungi. Dan, tentu saja perilaku lancung keduanya telah merusak ketenangan umat Muslim Iran yang sedang menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.
 
Militer Iran mengambil langkah terukur dalam merespons serangan Israel dan AS dengan melakukan serangan balasan ke tempat-tempat yang sudah diproyeksikan sebelumnya. Angkatan bersenjata Iran langsung melakukan serangan balasan dengan menyasar ibukota Israel yang memaksa Israel menutup wilayah pertahanan udaranya. Belum ada laporan seberapa besar dampak yang ditimbulkan oleh serangan balasan. Selain itu, sikap pengecut AS yang membekingi Israel dibalas Iran dengan melakukan serangan terhadap basis pertahanan dan pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah. 
 
Mengutip laporan the Economic Times yang mengutip sumber Iran dan pernyataan dari pihak-pihak negara yang menjadi basis AS, rudal-rudal Iran melaju kencang menyerang pangkalan udara Al Salem Air Base di Kuwait, Al Dhafra Air Base di Uni Emirat Arab, serta US Navy Fifth Fleet Headquarters di Bahrain. Serangan rudal Iran tersebut memaksa negara-negara Arab sekutu AS untuk mengaktifkan sistem pertahanan udaranya, serta secara teknis melakukan langkah intercept agar serangan-serangan balasan tersebut tidak menemui sasaran.
 
Serangan militer yang dilakukan oleh AS dan Israel adalah sesuatu yang sangat disayangkan. Sementara itu, apa yang dilakukan oleh Iran adalah sebuah sikap yang wajar, pilihan rasional, dan langkah bermartabat dari sebuah negara yang persisten menjaga marwah, martabat, dan kedaulatan nasionalnya. Perilaku lancung AS dan Israel sejatinya merupakan sikap yang menampar wajah mereka sendiri yang mengklaim sebagai juru perdamaian dunia dengan menginisiasi Board of Peace yang menegasikan keberadaan PBB dan menjungkalkan tata nilai perdamaian dunia.
 
Sementara itu, sikap koersif yang ditunjukkan oleh keduanya berpotensi menjadi otokritik dan evaluasi kebijakan bagi negara-negara yang selama ini mendukung dan bergabung ke dalam Board of Peace, terutama negara-negara Muslim yang tergabung di dalamnya-termasuk Indonesia. Negara-negara pendukung Trump dalam Board of Peace masih memiliki kesempatan untuk balik badan dengan menjadikan fakta empirik serangan AS dan Israel ini sebagai basis kebijakan untuk putar haluan. Perdamaian adalah ilusi apabila negara yang menjadi inisiatornya justru menerapkan hipokrisi dalam aksentuasi kebijakan luar negerinya.
 
Dampak dan Konsekuensi Perang
 
Apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini akan menimbulkan turbulensi geopolitik yang hebat, baik di level regional kawasan maupun dalam tataran global. Konflik berpotensi meningkat intensitasnya karena Iran tentu akan merespons habis-habisan sampai titik darah penghabisan untuk menjaga kedaulatan nasionalnya. 
 
Konflik juga berpotensi melebar spektrumnya karena akan menggiring aktor-aktor hubungan internasional lainnya dalam pusaran konflik. Negara-negara yang menjadi basis pertahanan AS di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Bahrain akan mengalami dilema kebijakan, antara menjadi bantalan (buffer) kebijakan AS atau mengambil sikap berdaulat karena mereka menjadi objek yang terdampak oleh perang di antara claimant states. Di sisi lain, Rusia dan Tiongkok yang menjadi sekutu tradisional Iran tidak akan tinggal diam ketika Iran yang menjadi sekutu mereka menjadi samsak serangan bersama oleh AS dan Israel. Yang lebih rumit, tekanan dan operasi militer terhadap Iran akan memicu gerakan perlawanan sporadis yang selama kerap diasosiasikan dengan Iran seperti Kataeb Hezbollah di Irak, gerilyawan Hizbullah di Lebanon, serta Houthi di Yaman.
 
Perang di Kawasan Teluk akan berdampak fatal dari sisi ekonomi. Iran berpotensi untuk menutup Selat Hormuz tatkala situasi peperangan berubah tidak menguntungkan bagi mereka. Penutupan Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga minyak mentah dan gas alam cair dunia mengingat celah sempit di antara dua pulau ini memainkan peranan strategis sebagai rantai pasok dan rantai konektivitas hampir 20 persen minyak mentah dan 25 persen gas alam cair di wilayah kawasan. 
 
Sumbatan pada rantai pasok dan konektivitas energi yang terjadi di wilayah ini akan menimbulkan respons keras dari dunia internasional yang notabene menggantungkan pasokan energinya dari Timur Tengah. Terlepas dari berbagai proyeksi buruk terhadap jalannya peperangan, ada satu angin segar yang harus bisa dioptimalkan untuk mencegah peperangan terjerumus pada sirkumstansi yang lebih berbahaya. Inilah momentum bagi PBB untuk merevitalisasi peranannya dan menegaskan kedaulatan supranasionalnya sebagai lembaga yang diamanahkan untuk menjaga perdamaian internasional.
 
Rusia dan Tiongkok yang menjadi anggota tetap DK PBB dapat memainkan “kartu perdamaiannya” dengan memaksa DK PBB bersidang dan merumuskan resolusi bagi perdamaian Timur Tengah. Rusia dan Tiongkok yang dieksklusi AS keberadaannya melalui pembentukan Board of Peace dapat membangun komunikasi dengan negara-negara Eropa yang notabene juga memiliki hak veto dan saat ini berseberangan dengan AS dalam hal kebijakan luar negeri seperti Inggris dan Prancis. 
 
Negara-negara lain yang menjadi anggota tidak tetap DK PBB, bahkan negara yang secara umum berhimpun dalam naungan PBB seperti Indonesia juga dapat memainkan peran perdamaian dengan melakukan tekanan domestik terhadap Kedubes AS di negara masing-masing, serta menyerukan kepada DK PBB untuk mengambil tindakan tegas. Pada akhirnya, upaya untuk mewujudkan perdamaian (perpetual peace) sebagaimana dipostulatkan oleh filsuf Immanuel Kant yang melataberlakangi kelahiran PBB adalah suatu hal yang harus diupayakan. Upaya kolektif dari seluruh negara dunia cepat atau lambat akan meminggirkan AS dan Israel dalam catur peradaban dunia. rmol news logo article
 
Boy Anugerah, S.I.P., M.Si., M.P.P
Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional dan ESDM DPR RI/Alumnus FISIP Hubungan Internasional Unpad/Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF).
 
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA