Fenomena ini tampak jelas ketika publik global memperbincangkan tokoh-tokoh yang, meski berasal dari konteks politik berbeda, sama-sama memanfaatkan narasi identitas, ketegasan personal, dan penciptaan musuh bersama. Dalam spektrum tersebut, dunia menyaksikan kemunculan figur seperti Lord Rangga, Donald Trump, Vladimir Putin, dan Xi Jinping, empat nama yang sering dipertautkan dalam diskursus publik, meski bobot geopolitiknya sangat berbeda.
Lord Rangga, yang dikenal luas melalui klaim simbolik “Sunda Empire”, tidak memiliki kekuasaan negara. Namun, kemunculannya penting sebagai gejala sosial-politik bagaimana ketidakpastian global dan kekecewaan terhadap institusi formal dapat melahirkan figur pseudo-otoritatif yang memanfaatkan sejarah alternatif dan bahasa kebesaran. Ia merepresentasikan dimensi mikro dari fenomena global dimana politik sebagai pertunjukan (political spectacle), di mana simbol dan narasi sering kali lebih beresonansi dibandingkan fakta kebijakan.
Sebaliknya, Donald Trump muncul dari pusat kekuatan dunia. Terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2016, Trump membawa gaya populisme nasionalis yang menantang tatanan liberal internasional. Slogan “America First” menandai pergeseran signifikan mulai penarikan dari perjanjian multilateral tertentu, skeptisisme terhadap aliansi tradisional, serta penggunaan retorika konfrontatif dalam diplomasi. Dalam konteks geopolitik, Trump menunjukkan bagaimana demokrasi mapan pun dapat menghasilkan kepemimpinan yang mengandalkan personalisasi kekuasaan dan komunikasi langsung terutama melalui media sosial untuk membentuk opini publik domestik dan internasional.
Vladimir Putin menawarkan model yang berbeda namun sama kuatnya. Sejak awal 2000-an, Putin membangun kembali negara Rusia dengan mengonsolidasikan kekuasaan, menata ulang elit politik, dan menempatkan stabilitas sebagai nilai utama. Di arena global, Rusia di bawah Putin menantang dominasi Barat melalui kebijakan luar negeri yang asertif, termasuk di Eropa Timur dan Timur Tengah. Putin mempersonifikasikan kebangkitan negara kuat (strong state) yang menolak intervensi nilai liberal universal dan menegaskan kedaulatan sebagai prinsip tertinggi. Dalam kerangka geopolitik, ia adalah simbol perlawanan terhadap tatanan unipolar pasca-Perang Dingin.
Sementara Xi Jinping, di sisi lain, merepresentasikan transformasi struktural jangka panjang. Kepemimpinannya menandai konsolidasi kekuasaan Partai Komunis Tiongkok sekaligus ekspansi pengaruh global melalui ekonomi, teknologi, dan diplomasi. Inisiatif seperti Belt and Road Initiative memperlihatkan pendekatan sistemik, bukan sekadar retorika, melainkan pembangunan jejaring infrastruktur dan keuangan lintas benua. Xi menggabungkan legitimasi ideologis, kapasitas negara, dan visi strategis jangka panjang untuk menempatkan Tiongkok sebagai pusat baru gravitasi geopolitik dunia.
Mengapa keempat figur ini kerap dibicarakan dalam satu tarikan napas?Jawabannya terletak pada kesamaan metode simbolik, bukan kesetaraan kekuasaan. Mereka memanfaatkan narasi kejayaan masa lalu baik yang faktual maupun imajiner untuk menjawab kecemasan masa kini.
Dalam situasi global yang ditandai krisis ekonomi, disrupsi teknologi, dan konflik identitas, publik cenderung merespons figur yang menawarkan kepastian, kesederhanaan pesan, dan personifikasi solusi.
Namun, konsekuensi geopolitiknya sangat berbeda. Lord Rangga berhenti pada level wacana dan hiburan politik, dengan dampak terbatas pada tatanan negara. Trump, meski beroperasi dalam sistem checks and balances, sempat mengguncang kepercayaan terhadap multilateralisme dan memperdalam polarisasi global. Putin dan Xi, dengan kontrol negara yang kuat, mampu mengubah peta kekuatan regional dan global secara nyata melalui kebijakan energi, militer, teknologi, dan ekonomi.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran dari geopolitik berbasis institusi menuju geopolitik berbasis figur. Ketika pemimpin menjadi simbol utama negara, stabilitas global menjadi sangat bergantung pada persepsi, gaya komunikasi, dan keputusan personal mereka. Risiko salah kalkulasi meningkat, tetapi di saat yang sama, kejelasan arah juga bisa muncul lebih cepat dibandingkan diplomasi birokratis yang lamban.
Bagi dunia, tantangannya adalah membedakan antara kekuatan simbolik dan kekuatan struktural. Tidak semua figur yang lantang memiliki kapasitas mengubah sistem, dan tidak semua pemimpin yang senyap kehilangan pengaruh. Analisis geopolitik yang matang menuntut pemahaman atas konteks institusional, sumber daya, dan legitimasi yang menopang setiap figur.
Pada akhirnya, Lord Rangga, Trump, Putin, dan Xi Jinping adalah cermin dari zaman yang sama yaitu era ketidakpastian global yang mendorong personalisasi kekuasaan.
Dari Indonesia hingga Washington, dari Moskow hingga Beijing, politik tidak lagi semata-mata soal kebijakan, melainkan tentang cerita yang dipercaya publik. Di sinilah geopolitik abad ke-21 bergerak di persimpangan antara fakta kekuasaan dan kekuatan narasi.
SafriadyPemerhati isu strategis.
BERITA TERKAIT: