Relasi Buku Sejarah dan Medium Refleksi Kebangsaan

Jumat, 09 Januari 2026, 23:42 WIB
Relasi Buku Sejarah dan Medium Refleksi Kebangsaan
Igun Sumarno. (Foto: Istimewa)
SEBUAH bangsa kerap bercermin pada sejarahnya, bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk memahami wajahnya sendiri. 

Di sanalah sejarah bekerja bukan sebagai katalog peristiwa, melainkan sebagai cermin yang memantulkan siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang membentuk perjalanan kolektif ini. 

Dalam konteks itu, buku sejarah memiliki peran yang jauh lebih substantif daripada sekadar buku ajar atau rujukan akademik. Ia menjadi medium refleksi kebangsaan.

Peluncuran buku sejarah Indonesia Jilid 1 sampai 11 oleh pemerintah menandai satu ikhtiar penting, yakni menghadirkan narasi sejarah yang utuh dan berkesinambungan sebagai pijakan bersama. 

Rangkaian jilid tersebut tidak berdiri sebagai dokumen beku, tetapi sebagai cermin yang memungkinkan publik menengok perjalanan panjang bangsa dengan jernih, melihat keberhasilan dan kegagalan, persatuan dan perpecahan, serta dinamika sosial yang membentuk Indonesia hari ini.

Sejarah sebagai cermin selalu menuntut kejujuran. Ia tidak memilih hanya sisi yang nyaman untuk dilihat. 

Dalam buku sejarah, bangsa diajak menyaksikan dirinya secara apa adanya, bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana masyarakat beradaptasi, dan bagaimana nilai nilai kebangsaan diuji oleh waktu. 

Kejujuran inilah yang membuat sejarah tetap relevan. Tanpanya, sejarah hanya akan menjadi hiasan retoris yang kehilangan daya reflektif.

Buku sejarah yang diperkaya memberi ruang bagi refleksi semacam itu. Ia tidak berhenti pada kronologi, tetapi membuka lapisan makna di balik peristiwa. 

Ketika sejarah dituturkan dengan kedalaman konteks sosial budaya ekonomi dan politik, pembaca diajak melihat pola. 

Dari pola itulah cermin bekerja, publik dapat mengenali kebiasaan lama yang berulang, kesalahan yang patut dihindari, dan nilai yang layak dipertahankan.

Dalam tradisi jurnalisme reflektif, sejarah selalu diperlakukan sebagai bahan dialog dengan masa kini. Pendekatan ini membuat sejarah terasa hidup, narasinya mengalir, analitis, dan tidak menghakimi. 

Buku sejarah Jilid 1 sampai 11 menyediakan fondasi penting bagi pendekatan tersebut. Dengan rentang waktu yang luas dan struktur yang sistematis, buku buku ini memberi ruang bagi pembacaan kritis tanpa tercerabut dari kerangka ilmiah.

Memperkaya buku sejarah menjadi langkah yang alamiah. Bukan untuk mengubah cermin, melainkan membersihkannya agar pantulan semakin jernih. 

Pengayaan membuka ruang bagi perspektif yang lebih beragam, termasuk pengalaman masyarakat di luar pusat kekuasaan, dinamika lokal, serta kisah sosial yang kerap luput dari narasi besar. 

Dengan demikian, cermin sejarah tidak hanya memantulkan elite dan peristiwa politik, tetapi juga denyut kehidupan warga biasa yang turut membentuk bangsa.

Bagi generasi muda, cermin sejarah berfungsi membangun kesadaran diri. Mereka tidak lagi melihat sejarah sebagai cerita yang jauh, melainkan sebagai proses panjang yang turut membentuk kehidupan hari ini. 

Ketika buku sejarah menghadirkan pengalaman manusiawi berupa pilihan, dilema, dan konsekuensinya, sejarah menjadi relevan dengan pertanyaan zaman tentang keadilan, kebinekaan, dan arah masa depan.

Lebih jauh, sejarah sebagai cermin membantu bangsa bersikap dewasa terhadap perbedaan tafsir. Setiap generasi membaca sejarah dari sudut pandangnya sendiri. 

Buku sejarah yang kokoh dan terus diperkaya menyediakan bingkai bersama agar perbedaan itu tetap berpijak pada pengetahuan dan data, bukan pada prasangka. 

Di sinilah fungsi publik buku sejarah bekerja, menjaga percakapan kebangsaan tetap berakar pada fakta dan konteks.

Keberadaan buku sejarah Indonesia Jilid 1 sampai 11 patut ditempatkan sebagai tonggak, bukan sebagai akhir. 

Ia menjadi dasar bersama untuk terus memperdalam pemahaman kolektif. Sejarah Indonesia, seperti bangsanya, selalu bergerak dan berkembang. 

Cermin yang baik tidak memaksakan satu wajah, tetapi memantulkan perubahan secara jujur dan utuh.

Pada akhirnya, buku sejarah adalah ruang refleksi yang menuntut keterlibatan pembacanya. 

Ia mengajak bangsa bercermin, menyadari luka dan capaian, merawat ingatan kolektif, serta menimbang langkah ke depan. 

Dengan fondasi buku sejarah yang telah diluncurkan pemerintah dan komitmen untuk terus memperkayanya, sejarah Indonesia dapat menjalankan perannya yang paling penting, membantu bangsa mengenali dirinya sendiri agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. rmol news logo article

Igun Sumarno
Praktisi Pendidikan/ Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Depok

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA