Sejatinya, pesantren memiliki sejarah yang panjang dalam menemani langkah pendidikan di Indonesia. Sayangnya, pesantren sebagai sebuah ragam pendidikan di Indonesia masih dipandang sebelah mata. Hal ini disebabkan banyaknya lulusan pesantren yang gagap terhadap tantangan ekonomi global. Meski demikian, lulusan pesantren dikenal sebagai pribadi yang memiliki etos kemandirian yang tinggi.
Munculnya pesantren-pesantren modern berstandard internasional merupakan reaksi terhadap problema di atas. Tujuannya adalah mencetak generasi Islam yang mandiri dan mampu bersaing di dunia global. Akan tetapi pada kenyataannya muncul permasalahan baru, yaitu banyaknya lulusan pesantren modern yang serba tanggung. Artinya, lulusan tersebut tidak terlalu mahir di bidang keilmuan agama pun tidak terlalu ahli di bidang keilmuan umum. Melihat fenomena ini, gagasan pesantren maritim harus dipikirkan hingga matang. Karena jika tidak, tentu akan semakin menambah rentetan panjang rumitnya sistem pendidikan Indonesia.
Pesatren maritim sebaiknya didirikan di wilayah perkampungan nelayan. Materi yang diajarkan pun tidak lantas terpaku pada ayat-ayat tentang kelautan, melainkan lebih ditekankan kepada aktualisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sebagai upaya memanfaatkan kekayaan alam serta menjaga kelestariannya. Jadi, Islam diposisikan sebagai nilai yang melandasi tingkah laku. Bukan dijadikan sebagai pedoman praktis berlayar atau mencari ikan.
Persoalan pembentukan karakter dan internalisasi nilai Islam terhadap para santri pesantren maritim, serahkan saja kepada kyai atau ustadz setempat. Kemenag tidak perlu ikut campur. Lantas di mana peran Kemenag?
Setidaknya, Kemenag cukup menanggung dua hal saja dalam mewujudkan program pesantren maritim.
Pertama, menyediakan sarana dan prasarana kelautan.
Kedua, memasok tenaga pendidik yang mumpuni di bidang kelautan. Kedua hal ini ditujukan agar lulusan pesantren maritim tidak kalah saing dengan lulusan sekolah pelayaran pada umumnya.
Pesantren maritim yang tepat sasaran dan mampu dikelola dengan baik, tentunya akan turut menyumbang Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing di kancah global. Serta mampu menangkis isu bahwa pendidikan pesantren merupakan sarang manusia-manusia konservatif yang berpandangan sempit terhadap dunia.
[***]Muflih HidayatPengamat pendidikan pesantren Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta