Di kawasan Bundaran Pamulang misalnya, angkot disana seolah merajai jalanan. Mereka berhenti dan
ngetem seenak perutnya. Tanpa peduli pengendara jalanan lainnya di belakang mereka yang tak bisa lewat. Saat ditegur, mereka pura-pura tak mendengar dengan memalingkan wajah ke kiri belakang, seolah menunggu penumpang. Demikian juga di depan SD Portal Pamulang, kemacetan parah sering terjadi.
Lalu menjelang tanjakan jalan layang Ciputat. Jalan layang yang dibikin dengan maksud agar mengurai kemacetan itu, seakan percuma saja, karena bus-bus besar seperti Bus 76 Ciputat-Kota, sering
ngetem menjelang tanjakan, sehingga tetap saja membuat macet jalanan.
Kemudian begitu turunan jalan layang ini, kemacetan juga sering terjadi hingga 1 Km, karena angkot yang tidak tertib dengan
ngetem di dekat Putaran Samsung. Termasuk di Pertigaan Legoso, depan UIN Syarif Hidayatullah, Perempatan Kampung Utan dan Pertigaan Gintung. Di Perempatan Kampung Utan misalnya, lampu merah disini tak pernah menyala sejak kerusuhan 1998 silam. Seolah disini tak ada pemerintahan! Aneh memang.
Untuk kasus di jalan layang Ciputat, mestinya bus atau angkot yang
ngetem sebelum tanjakan mesti ditilang. Percuma saja mahal-mahal bikin jalan layang, tapi fungsinya jadi tidak ada, gara-gara kemacetan baru dibikin sebelum memasuki jalan layang tersebut.
Dugaan adanya oknum petugas yang disuap oleh sejumlah oknum armada Bus 76, juga mesti diklarifikasi. Lepas dari itu, warga hanya ingin, bus-bus besar ini tidak seenaknya menghalangi jalanan, sehingga hak pengguna jalan lainnya seolah direbut bus-bus besar itu, atau juga oleh angkot-angkot.
Saya tak habis pikir, kenapa angkot-angkot itu seolah kebal hukum? Atau karena jumlah aparat kepolisian kita yang kurang? Mana solusi pejabat setempat terhadap persoalan-persoalan sehari-hari seperti ini?
Muhajir, Bambu Apus, Pamulang