Justru setelah forum tertinggi NU tersebut resmi dimulai, pembicaraan mengenai figur yang dinilai layak memimpin organisasi periode mendatang semakin berkembang.
Nama KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin dan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menjadi dua figur yang mendapat perhatian dari sejumlah kalangan.
Gus Kikin yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, mendapat penilaian positif dari Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang, KH A. Junaidi Hidayat.
KH Junaidi menilai NU membutuhkan pemimpin dengan kemampuan yang tidak berhenti pada penguasaan keilmuan agama.
Menurutnya, kompleksitas organisasi mengharuskan Ketua Umum PBNU memiliki kapasitas manajerial dan kemampuan membangun jaringan.
“NU adalah organisasi besar,” ujar KH Junaidi Hidayat.
Karena itu, menurut dia, kemampuan seorang calon pemimpin harus dilihat secara utuh. Pengelolaan organisasi, ekonomi, pendidikan hingga pengembangan jaringan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan NU ke depan.
“Tidak hanya kapasitas keilmuan di bidang agama,” katanya.
KH Junaidi menilai Gus Kikin memiliki pengalaman yang cukup beragam untuk menghadapi kebutuhan tersebut. Selain berada di lingkungan pesantren dan organisasi NU, Gus Kikin juga memiliki pengalaman di sektor usaha dan media.
“Saya melihat Gus Kikin punya kemampuan yang lebih utuh,” ujarnya.
Penilaian tersebut muncul di tengah semakin intensifnya pembicaraan mengenai kandidat Ketua Umum PBNU. Sebelumnya, Gus Rozin juga menjadi salah satu figur yang banyak mendapat sorotan karena rekam jejak organisatorisnya.
Gus Rozin memiliki perjalanan panjang dalam struktur kaderisasi NU. Ia pernah aktif di PP IPNU, GP Ansor, Lembaga Pendidikan Ma'arif PBNU, RMI PWNU Jawa Tengah, RMI PBNU hingga masuk dalam struktur PBNU sebagai Katib Syuriyah.
Pada 2024, Gus Rozin kemudian dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah masa khidmah 2024-2029. Rentang pengalaman tersebut membuat Gus Rozin dinilai memiliki pemahaman yang cukup luas mengenai organisasi, pesantren dan struktur NU.
Dua nama tersebut kini berada dalam lanskap kontestasi yang masih bergerak. Gus Kikin memiliki kekuatan dari basis pesantren Tebuireng dan kepemimpinan di PWNU Jawa Timur, sementara Gus Rozin memiliki rekam jejak panjang dari proses kaderisasi hingga kepemimpinan PWNU Jawa Tengah.
Perbedaan latar pengalaman itu membuat pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU menjadi semakin menarik. Peserta Muktamar tidak hanya dihadapkan pada pilihan nama, tetapi juga pada berbagai pertimbangan mengenai kapasitas dan arah organisasi.
KH Junaidi berharap dinamika tersebut tetap berlangsung dalam suasana yang sehat. Ia mengingatkan agar Muktamar tidak berubah menjadi arena pertarungan kepentingan yang dapat memecah persatuan warga Nahdliyin.
“Jangan sampai Muktamar terjebak pada pertarungan kepentingan,” tegasnya.
Menurutnya, siapa pun yang nantinya memimpin PBNU harus mampu membawa organisasi menghadapi tantangan abad kedua. NU membutuhkan penguatan di berbagai sektor agar potensi organisasi dapat dikelola menjadi kekuatan yang lebih mandiri.
Sektor ekonomi, pendidikan dan manajemen organisasi menjadi sejumlah bidang yang dinilai perlu mendapatkan perhatian. Selain itu, NU juga dituntut memperkuat jaringan internasional dan gerakan sosial.
“NU membutuhkan kekuatan itu,” ungkap KH Junaidi.

*
Kontributor Blora
BERITA TERKAIT: