Kunjungan tersebut juga menjadi momentum bagi warga dan relawan menyampaikan kondisi di lapangan.
Salah seorang mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana), Angelo, yang turut menjalankan misi kemanusiaan menilai respons pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat terdampak berlangsung cepat.
"Untuk penanganan dari pemerintah sendiri, seperti yang kami lihat, di sini pemerintah sudah cukup cepat mengambil tindakan. Seperti mendirikan posko bencana seperti ini," ujarnya.
Menurut Angelo, kebutuhan dasar para pengungsi juga telah terpenuhi berkat keterlibatan TNI, Polri, dan pemerintah daerah.
Selain pasokan air bersih dan makanan, pemerintah juga mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga selama berada di pengungsian.
"Jadi tanggapan kami setelah kami sampai langsung ke posko, kami melihat bahwa di sini pengungsinya sudah mendapatkan bantuan yang cukup dari TNI, Polri, maupun pemerintah setempat," kata dia.
Hal senada disampaikan Arif, warga Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang harus mengungsi setelah rumahnya hancur akibat gempa bermagnitudo 7,7.
Meski kehilangan tempat tinggal, Arif bersyukur seluruh anggota keluarganya selamat dan mengapresiasi bantuan pemerintah yang dinilainya cepat tiba.
"Cepat kalau bantuan pemerintah, Alhamdulillah cepat, kalau di keluarga tidak ada semua dibawa tidak ada korban, kalau rumah hancur semua," kata Arif.
Sementara itu, kebutuhan pangan pengungsi hingga kini masih terpenuhi dengan makanan yang disediakan tiga kali sehari.
"Biar tidak seperti ini. Biar bisa kami tinggal, terus sekarang ini rumah tidak bisa ditempati. Makanan Alhamdulillah masih bisa kami makan, bertahan sampai sekarang, Pak. Kalau makanannya baik. Kita makan tiga kali toh," timpal istri Arif.
BERITA TERKAIT: