Pelepasan tersebut diikuti 337 Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI), terdiri atas 317 orang yang telah mengantongi job order dan 20 lainnya yang siap diberangkatkan.
Mayoritas CPMI, yakni 287 orang, akan bekerja di Jepang pada sektor pengolahan makanan, perawatan fasilitas, dan perawatan lansia (kaigo). Sementara sisanya akan ditempatkan di Taiwan, Malaysia, Thailand, dan Hong Kong. Sebagai simbol kesiapan pemberangkatan, Muhaimin menyerahkan secara langsung kontrak kerja, paspor, dan visa kepada perwakilan CPMI.
Penempatan pekerja migran harus bertransformasi dari jalur informal yang rentan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) menuju penempatan prosedural yang memberikan kepastian hukum dan penghasilan yang lebih layak.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, menyambut baik pelaksanaan Program SMK Go Global di daerahnya. Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Cianjur siap berkolaborasi dengan pemerintah pusat maupun para pemangku kepentingan untuk mendukung keberhasilan implementasi program tersebut.
"Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan pemangku kepentingan lainnya dalam pelaksanaan program dimaksut," katanay.
Dalam kesempatan itu, Muhaimin juga menyebut Cianjur sebagai titik awal pembuktian arah baru pelindungan pekerja migran Indonesia. Menurutnya, daerah tersebut menjadi salah satu kantong pekerja migran dengan tingkat pengaduan yang tinggi, yakni mencapai 2.196 laporan sepanjang 2011-2026.
Sebanyak 88 persen di antaranya berasal dari penempatan nonprosedural, sehingga menempatkan Cianjur sebagai daerah dengan jumlah pengaduan tertinggi ketiga secara nasional.
Karena itu, ia berharap pola penempatan pekerja migran secara prosedural yang diterapkan di Cianjur dapat direplikasi di daerah-daerah pengirim PMI lainnya guna mendukung target penempatan 40.000 pekerja migran terampil pada 2026 sebagai bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Wins) Presiden Prabowo Subianto.
BERITA TERKAIT: