Mengutip data Bloomberg pukul 10.00 WIB, Rupiah menguat 51 poin atau 0,28 persen ke level Rp17.915 per Dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan Rupiah ditopang oleh sejumlah sentimen domestik, salah satunya aktivitas manufaktur Indonesia yang kembali masuk zona ekspansi pada September 2026.
Berdasarkan data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global pada Kamis, 1 Oktober 2026, PMI manufaktur Indonesia tercatat 52,4 pada September 2026. Angka ini meningkat dari 49,8 pada Agustus 2026.
"Indeks PMI di September yang mencapai 52,4 ini adalah yang tertinggi sejak Februari 2026 atau tujuh bulan," kata Ibrahim dalam risetnya.
Sentimen positif lainnya berasal dari kinerja perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 surplus sebesar 3,55 miliar Dolar AS.
Surplus tersebut ditopang oleh nilai ekspor yang mencapai 26,61 miliar Dolar AS, melampaui impor sebesar 23,06 miliar Dolar AS.
Adapun ekspor Indonesia pada Agustus 2026 tumbuh 6,72 persen secara tahunan. Sejumlah komoditas turut menopang kinerja ekspor, di antaranya nikel yang meningkat 51,67 persen dan aluminium yang melonjak 206,78 persen secara tahunan.
Sementara itu, impor Indonesia tercatat 23,06 miliar Dolar AS atau tumbuh 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Impor nonmigas juga meningkat 17,20 persen menjadi 19,53 miliar Dolar AS.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap Rupiah masih berasal dari perkembangan inflasi. BPS mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi 0,30 persen secara bulanan pada September 2026.
Secara tahunan, inflasi September tercatat 3,28 persen. Kenaikan harga sejumlah bahan pangan serta bahan bakar nonsubsidi menjadi salah satu sumber tekanan terhadap harga.
Meski Rupiah kembali menguat pada awal perdagangan, Ibrahim memperkirakan pergerakan mata uang Garuda masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
"Mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.960-Rp18.030," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: