Pertemuan itu berlangsung di tengah perhatian publik terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,50 persen.
Setibanya di halaman Istana, Luhut menjelaskan bahwa pertemuannya dengan Presiden merupakan bagian dari pelaporan rutin terkait perkembangan ekonomi dan berbagai isu strategis yang menjadi perhatian pemerintah.
“Ya, kita, kita melaporkan apa aja tiap Dewan Ekonomi tiap bulan atau tiap 5 minggu gitu,” ujar Luhut kepada wartawan.
Saat ditanya apakah kenaikan BI-Rate akan menjadi salah satu materi yang dibahas dengan Presiden, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu memberikan respons singkat.
“Kan bagus, ngerem anu,” kata dia.
Luhut juga menepis anggapan bahwa keputusan BI menaikkan suku bunga secara mengejutkan merupakan sinyal memburuknya kondisi ekonomi nasional.
Menurutnya, fondasi perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat meski menghadapi tekanan eksternal.
“Nggak. Bagus-bagus kok, ekonomi kita, fundamental masih oke, tapi memang kita perlu ada perhatian di beberapa titik karena perang Teluk ini juga masih perang apa, perang Hormuz ini masih berkelanjutan,” jelasnya.
Hari ini, BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Langkah tersebut merupakan kenaikan kedua dalam kurun waktu kurang dari satu bulan setelah bank sentral lebih dahulu menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada 20 Mei 2026.
BI menjelaskan kebijakan itu ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah yang berada di bawah tekanan akibat tingginya ketidakpastian global, khususnya terkait eskalasi konflik di Timur Tengah.
Selain menjaga stabilitas rupiah, kenaikan suku bunga juga diarahkan untuk memastikan inflasi tetap terkendali serta meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik di mata investor asing.
BERITA TERKAIT: