Semangat tersebut diwujudkan melalui The 2nd Sustainable International Community Service (SICS) 2026, yang diselenggarakan di Bali pada 29 Juni-2 Juli 2026 dengan melibatkan akademisi, mahasiswa, mitra internasional, pemerintah, dan masyarakat lokal.
Dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026, salah satu lokasi pelaksanaan kegiatan adalah Desa Serangan, Denpasar, Bali, kawasan pesisir yang memiliki potensi kuat dalam sektor pariwisata, kuliner, konservasi, serta ekonomi kreatif.
Melalui pendekatan community service, peserta tidak hanya melakukan kunjungan lapangan, tetapi juga mengidentifikasi potensi dan kebutuhan masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi program pemberdayaan secara berkelanjutan.
Salah satu program yang dilakukan oleh tim Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) berfokus pada penguatan UMKM Ayu & Bagus Collection, pelaku usaha lokal yang memanfaatkan limbah cangkang kerang dari restoran di sekitar Serangan menjadi berbagai produk kerajinan dan suvenir bernilai ekonomi.
Keunikan tersebut menjadikan Ayu & Bagus Collection bukan hanya sebagai UMKM kerajinan, tetapi juga contoh bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat dapat dikembangkan dengan prinsip circular economy. Material yang sebelumnya menjadi limbah dapat memperoleh nilai guna baru melalui kreativitas masyarakat lokal.
Dalam kegiatan ini, tim melakukan observasi terhadap karakteristik produk, proses pemanfaatan limbah cangkang kerang, pemasaran yang telah dilakukan, serta kesiapan kanal digital UMKM. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa Ayu & Bagus Collection memiliki potensi produk yang kuat, khususnya karena menggabungkan unsur kreativitas lokal, karakter kawasan pesisir, dan keberlanjutan lingkungan. Namun, potensi tersebut masih memerlukan penguatan dari sisi pemasaran digital agar produk dapat dikenal oleh konsumen yang lebih luas.
Tim mengidentifikasi sejumlah kebutuhan prioritas, meliputi penguatan identitas dan narasi merek berbasis pengolahan limbah kerang, optimalisasi media sosial, pengembangan kanal e-commerce, penyusunan katalog digital, serta kalender konten pemasaran. Pendekatan ini dilakukan agar transformasi digital UMKM tidak sekadar menghasilkan akun media sosial atau marketplace baru, tetapi dapat berkembang menjadi kemampuan digital yang benar-benar dapat dikelola secara mandiri oleh pelaku usaha.
Kegiatan di Desa Serangan menunjukkan bagaimana community service dapat menjadi instrumen perguruan tinggi untuk menghubungkan pendidikan, inovasi, pemberdayaan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu ekosistem. Program ini terutama memiliki keterkaitan dengan beberapa target Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 8 Decent Work and Economic Growth menjadi salah satu fokus utama melalui upaya penguatan kapasitas UMKM dan perluasan akses pasar produk masyarakat.
Digitalisasi diharapkan membuka peluang agar produk lokal tidak hanya bergantung pada konsumen yang datang langsung ke kawasan wisata, tetapi secara bertahap dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Kegiatan juga memiliki keterkaitan kuat dengan SDG 12 Responsible Consumption and Production. Pemanfaatan limbah cangkang kerang menjadi produk kerajinan merupakan praktik ekonomi sirkular yang memperpanjang nilai guna material sekaligus menawarkan alternatif pemanfaatan limbah dari aktivitas kuliner.
Selain itu, kegiatan mendukung semangat SDG 17 Partnerships for the Goals, karena SICS 2026 menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra internasional, pemerintah, masyarakat, mahasiswa, dan pelaku usaha dalam mengembangkan solusi berbasis kebutuhan lokal.
Dalam konteks yang lebih luas, kegiatan tersebut juga memperlihatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap SDG 4 Quality Education, khususnya melalui pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), ketika dosen dan mahasiswa menggunakan pengetahuan akademik untuk memahami dan membantu menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
SICS 2026 memperlihatkan bahwa internasionalisasi perguruan tinggi dapat berjalan beriringan dengan penciptaan dampak bagi masyarakat lokal. Pertemuan akademisi dan mahasiswa dari berbagai institusi tidak hanya diarahkan pada pertukaran pengetahuan, tetapi juga pada penerapan keilmuan untuk menjawab tantangan yang dihadapi komunitas. Melalui Desa Serangan, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana isu pariwisata berkelanjutan, ekonomi kreatif, digitalisasi UMKM, pengelolaan limbah, dan pemberdayaan masyarakat saling berhubungan.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat paradigma bahwa community service perguruan tinggi perlu bergerak dari kegiatan yang bersifat seremonial menuju community empowerment yang berbasis kebutuhan, kolaboratif, terukur, dan berkelanjutan. Dengan menghubungkan potensi lokal Desa Serangan dengan pengetahuan, teknologi, dan jejaring perguruan tinggi, The 2nd Sustainable International Community Service 2026 diharapkan menjadi salah satu model kolaborasi internasional yang tidak hanya memperkuat jejaring akademik, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs dari tingkat komunitas.
BERITA TERKAIT: