Merespons hal tersebut, Aktivis Forum Sipil Bersuara (FORSIBER) Hamdi Putra mengatakan, narasi tersebut berpotensi menjadi salah satu gimik fiskal paling menyesatkan dalam komunikasi ekonomi pemerintah tahun 2026.
"Sebab publik digiring seolah-olah pemerintah melakukan penghematan besar dan memangkas program jumbo secara drastis," kata Hamdi, dikutip Rabu 20 Mei 2026.
Padahal sejak awal struktur riil anggarannya memang hanya sekitar Rp268 triliun. Sementara Rp67 triliun lainnya lebih tepat disebut sebagai dana cadangan, buffer ekspansi, atau ruang tambahan yang belum tentu digunakan penuh.
"Artinya, yang terjadi bukanlah pemotongan terhadap belanja inti, melainkan sekadar tidak mengaktifkan dana cadangan," kata Hamdi.
Namun istilah yang dipilih justru “dipangkas Rp67 triliun”. Ini menciptakan ilusi disiplin fiskal yang lebih besar daripada realitas sebenarnya.
"Masalah utamanya bukan hanya soal istilah, tetapi soal kredibilitas komunikasi ekonomi negara," pungkas Hamdi.
BERITA TERKAIT: