Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengatakan, di tengah meningkatnya simpati publik Indonesia terhadap Iran dan Palestina, kunjungan ke Rusia bisa dibaca sebagai sinyal bahwa Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti garis Barat.
“Ini penting untuk menjaga legitimasi politik di dalam negeri, sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia tetap independen,” kata Amir melalui keterangan tertulis, dikutip Minggu 12 April 2026.
Meski dinilai cerdas, Amir mengingatkan bahwa strategi ini penuh risiko.
Beberapa potensi dampak yang disorot antara lain tekanan diplomatik dari Amerika Serikat, kecurigaan dari negara-negara Board of Peace, risiko sanksi ekonomi sekunder, dan terseret lebih jauh dalam konflik global
“Bermain di dua kaki itu seni tinggi dalam geopolitik. Tapi kalau salah langkah, bisa jatuh ke dua-duanya,” kata Amir.
Meski begitu, lanjut Amir, kunjungan Prabowo ke Rusia menandai fase baru politik luar negeri Indonesia. Negara ini tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi mulai masuk dalam arena utama geopolitik global.
“Ini pertanda Indonesia ingin naik kelas sebagai
middle power yang diperhitungkan. Tapi konsekuensinya besar,” pungkas Amir.
BERITA TERKAIT: