Menteri Perdagangan Budi Santoso kini bergerak mencari sumber bahan baku alternatif dari berbagai negara, termasuk Afrika dan India, guna menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 1 April 2026, Budi mengungkapkan bahwa lonjakan harga plastik tidak lepas dari efek konflik global, karena bahan baku utama berupa nafta masih bergantung pada impor dari Timur Tengah.
"Beberapa hari ini kan memang banyak atau keluhan masyarakat harga plastik naik. Jadi ini bagian dari dampak dari perang. Kita itu, bahan baku plastik itu salah satunya adalah nafta. Nafta itu kita impor dari Timur Tengah," ungkapnya kepada awak media.
Mendag menuturkan, upaya pencarian alternatif telah dilakukan ke sejumlah negara seperti Afrika, India, dan Amerika, namun pergeseran pasokan dari Timur Tengah memerlukan waktu agar kondisi harga kembali normal.
"Kita sekarang mencari anternatif pengganti atau alternatif dari negara lain. Dan kita sudah melakukan misalnya afrika, india dan amerika. Memang ini butuh waktu, karena kan tiba-tiba dari timur tengah trus pindah ke negara lain," jelasnya.
Budi menambahkan, pemerintah tidak tinggal diam dan terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk asosiasi industri, guna memastikan rantai pasok tetap berjalan.
Upaya pencarian pemasok baru juga dilakukan melalui jaringan perwakilan Indonesia di luar negeri.
"Jadi beberapa perusahaan di Singapura, di Cina, di Korea, dan juga di Taiwan, Thailand juga. Tapi kita untuk bahan baku trus kita lakukan sehingga produksi di dalam negeri normal lagi," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: