Demikian pandangan pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah melalui keterangan tertulis di Jakarta, dikutip Minggu 29 Maret 2026.
Amir menilai, penguatan hubungan BIN-MSS harus dibaca dalam konteks pergeseran tatanan dunia menuju sistem multipolar, di mana negara-negara tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu kekuatan besar seperti Amerika Serikat.
“Kerja sama ini bukan hanya soal pertukaran informasi intelijen, tapi bagian dari reposisi strategis Indonesia. Pemerintahan Prabowo sedang menguji keseimbangan baru antara Barat dan Timur,” kata Amir.
Menurut Amir, di era modern, kerja sama intelijen telah menjadi instrumen penting dalam membangun pengaruh geopolitik.
MSS sendiri dikenal sebagai salah satu badan intelijen paling kuat di Asia, dengan fokus pada kontraintelijen, keamanan nasional, hingga pengamanan kepentingan ekonomi global China.
Di sisi lain, BIN memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas domestik Indonesia serta membaca dinamika ancaman regional, mulai dari terorisme hingga konflik geopolitik.
“Jika kedua lembaga ini memperkuat kemitraan, maka akan terjadi pertukaran data strategis, termasuk potensi ancaman kawasan, jalur perdagangan, hingga keamanan energi. Ini bukan kerja sama biasa,” kata Amir.
BERITA TERKAIT: