Demikian penegasan Wakil Ketua MPR sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) dalam rangkaian Reses 2026 dengan menghadiri buka puasa bersama di Pondok Pesantren Syarifatul Ulum,Ngawi, pada Kamis 26 Februari 2026.
Ia menekankan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan ekonomi, tetapi juga oleh moral dan akhlak.
“Ilmu tanpa akhlak adalah kegelapan, akhlak tanpa ilmu adalah kelemahan. Keduanya harus berjalan bersama," kata Ibas melalui keterangan tertulis, dikutip Jumat 27 Februari 2026.
Ia juga mengingatkan bahwa peran pesantren telah ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Menurutnya, amanat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945 untuk “
mencerdaskan kehidupan bangsa telah lama dijalankan oleh pesantren, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Data nasional menunjukkan jumlah pesantren di Indonesia kini mencapai lebih dari 39 ribu dengan jutaan santri.
“Ini kekuatan besar. Ini energi moral bangsa. Santri hari ini adalah pemimpin masa depan,” kata Ibas.
Dalam momentum Ramadan, Ibas mengajak para santri menjadikan puasa sebagai sarana memperkuat disiplin, memperbaiki hati, dan meningkatkan prestasi.
“Jika ilmu kuat, akhlak terjaga, dan prestasi tumbuh, maka negeri akan kuat. Ramadan religi, menguatkan negeri,” pungkas Ibas.
BERITA TERKAIT: