Begitu pandangan yang disampaikan Direktur Eksekutif Reforminer Institue, Komaidi Notonegoro dalam diskusi publik yang digelar Penggerak Milenial Indonesia (PMI), di Fifo Resto and Cafe, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (13/9).
“Terkait penolakan kenaikan harga BBM, itu sama halnya dengan upaya membela orang-orang kaya, sebab pengguna bahan bakar jenis Pertalite umumnya didominasi oleh orang mampu,†ujar Komaidi.
Dia membeberkan terkait data pengguna bahan bakar bersubsidi yang mencatat 70 persen penggunanya adalah pemilik roda empat. Sementara roda dua hanya 30 persen dengan secara keseluruhan penggunanya didominasi oleh orang-orang kaya.
“Jadi, secara akumulatif pengguna Pertalite didominasi oleh orang-orang kaya,†katanya.
Pada sisi lainnya, Komaidi memaparkan, penduduk miskin Indonesia pada tahun 2022 mencapai angka 26,11 juta jiwa. Rata-rata dari mereka tidak mempunyai kendaraan bermotor, sebab hanya mampu untuk memenuhi kebutuhan primer.
“Alokasi BBM bersubsidi, umumnya tidak kepada mereka. Artinya, subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah untuk mensubsidi orang mampu di Indonesia, bukan orang miskin,†pungkasnya.
BERITA TERKAIT: