Begitu tegas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan keynote speech dalam acara “the 1st Conference on Contemporary Risk Studies During Covid-19 Pandemic: Challenge and Opportunities†yang diselenggarakan oleh Universitas Pertamina, Kamis (31/3).
Menko Airlangga percaya penguatan koordinasi sangat penting untuk mengantisipasi dan memitigasi risiko yang kita hadapi di tahun 2022.
Menurutnya, pandemi Covid-19 telah mengajarkan untuk selalu antisipatif dan tanggap dalam menyikapi krisis. Sebagaimana dicatat oleh KTT G20 di Roma tahun lalu, pemulihan ekonomi dan kesehatan sedang berlangsung di seluruh dunia tetapi masih sangat tidak merata antar negara. Kesenjangan dalam proses vaksinasi telah menciptakan pemulihan ekonomi yang berbeda.
“Sebagai Presidensi G20, Indonesia memahami tantangan ke depan dan perlunya tindakan kolektif untuk mengatasinya. Pemerintah Indonesia berharap untuk memberikan tidak hanya hasil naratif, tetapi juga hasil nyata dan konkrit,†tegasnya.
Tiga pilar utama menjadi fokus pemerintah untuk Presidensi G20 tahun 2022, yakni arsitektur kesehatan global, transisi energi berkelanjutan, dan transformasi digital.
Pilar-pilar ini akan menjadi landasan Indonesia untuk terus memimpin dalam memastikan kesetaraan akses atas vaksin Covid-19, juga mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif melalui partisipasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan ekonomi digital.
Terakhir, Ketua Umum Partai Golkar ini menyambut saran yang disampaikan melalui konferensi ini, tentang bagaimana memetakan dan menavigasi berbagai risiko dan peluang yang dihadapi saat ini, serta untuk memberikan pendekatan baru guna mendukung pemulihan nasional dan global.
“Saya ingin mengucapkan selamat pada konferensi hari ini dan saya berharap dapat menerima kiriman ide dan kontribusi Anda, untuk pemulihan nasional dan global kita,†pungkas Menko Airlangga.
BERITA TERKAIT: