Baginya, majelis IPU ke-144 dapat menjadi momentum bagi parlemen untuk menyebarkan budaya damai atau
culture of peace yang selalu mempromosikan toleransi dan dialog serta menolak kekerasan.
Ia juga menyinggung krisis kemanusiaan akibat konflik Rusia dan Ukraina.
“Melalui upaya damai, pertemuan majelis IPU ini mendorong diakhirinya perang di Ukraina. Tentunya kita mengharapkan perang segera berakhir, dan dilakukan gencatan senjata,†ujar Puan dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/3).
Puan kemudian menekankan pentingnya penghormatan kepada hukum internasional, piagam PBB, dan perlunya peneguhan integritas teritori untuk mencapai resolusi konflik Rusia dan Ukraina.
“Namun, kita jangan melupakan untuk menyelesaikan konflik di berbagai belahan bumi lainnya. Pertemuan ini juga dapat mendesak tercapainya kemerdekaan penuh Palestina,†tegas Puan.
Puan lantas mengingatkan agar parlemen mendorong diplomasi preventif guna mencegah terjadinya konflik dan perang. Parlemen juga diminta untuk bisa memobilisasi dukungan masyarakat internasional dalam penanganan dampak sosial pandemi, seperti bertambahnya kemiskinan dan ketimpangan.
Terlepas konflik di Ukraina dan Palestina, Puan juga menyoroti situasi demokrasi di Myanmar akibat konflik internal yang sudah terjadi setahun belakangan ini.
“Terkait situasi di Myanmar, kita dapat mendorong agar Myanmar kembali ke jalan demokrasi,†demikian Puan.
BERITA TERKAIT: