Qodari mengatakan, alasannya mendukung dan mengusung kedua tokoh bangsa terus didasari adanya keterbelahan dan polarisasi yang terjadi pada dunia perpolitikan baik di dalam maupun luar negeri.
"Ya ancaman terbesar bangsa kita saat ini menurut saya adalah soal polarisasi terutama pada saat Pemilu ya dan Pilkada dan ancaman ini menurut saya harus jika antisipasi dari sekarang," ucap Qodari kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Kamsi (18/3).
Pihaknya menambahkan, adanya peristiwa pemilihan presiden Amerika Serikat yang mengalami pembelahan dan kerusakan di Amerika Serikat pada tahun 2020 kemarin, juga menjadi pelajaran berharga untuk sistem politik di Indoensia.
"Hal semacam itu menurut saya harus jadi pelajaran bagi bangsa kita. Karena Amerika yang sudah 245 tahun berdiri dan status ekonominya begitu tinggi, bisa sedemikian terbelah dan bukan mustahil hal semacam itu bisa terjadi di Indonesia," katanya.
Selain itu, lanjut Qodari, berkaca pada pemilihan presiden tahun 2014 kemarin antara Jokowi dan Prabowo, pembelahan tersebut tampak begitu keras meski lawannya sama-sama satu agama.
"Karena kita tahu mulai tahun 2014 pembelahannya menjadi keras pada saat itu walaupun sama-sama muslim, Pak Jokowi ya dikampanyekan kampanye hitam sebagai seorang komunis orang PKI keturunan Tionghoa, warganegara Singapura, agama Kristen dan seterusnya. Isu komunis dan sentimen primordial untuk menyerang Pak Jokowi," ucapnya.
"Menimbulkan ketegangan dan keterbelahan sedemikian rupa rakyat Indoensia," tandasnya.
BERITA TERKAIT: