Sebab kondisi militer Tanah Air bila dibandingkan dengan Myanmar sangat jauh berbeda. Di Indonesia, loyalitas militer kepada presiden tidak diragukan.
"Jika melihat kondisi politik saat ini, kudeta militer di Indonesia tak akan terjadi. Karena TNI masih loyal terhadap presiden," kata pengamat politik dari Indonesia Political Review, Ujang Komarudin kepada wartawan, Rabu (3/2).
Kendati demikian, Ujang mewanti-wanti agar semua kemungkinan tetap diantisipasi. Menurut dia, Presiden Joko Widodo perlu memilih sosok yang loyal dan dekat untuk posisi Panglima TNI untuk menghindari hal serupa di Myanmar terjadi di Tanah Air.
Militer Myanmar diketahui mengambil alih kendali negara. Kudeta terjadi setelah ketegangan meningkat antara pemerintah sipil Suu Kyi dan militer terkait sengketa hasil pemilihan umum.
Sejak 2011, Myanmar bergerak menuju pemerintahan demokratis, setelah sebelumnya berada di bawah rezim militer. Aung San Suu Kyi menjadi tokoh demokrasi di negara itu.
Pada 2015, Suu Kyi dan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) terpilih memimpin melalui proses pemungutan suara. 1 Februari, Suu Kyi seharusnya melanjutkan masa jabatan periode kedua. Namun, militer mengambil alih pemerintahan dengan tuduhan adanya kecurangan dalam pemungutan suara.
BERITA TERKAIT: