Demikian disampaikan Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati saat rapat kerja (Raker) bersama Komisi V DPR RI melalui telekonferensi, Senin (20/4).
"Skenario pertama operasional layanan operasi meteorologi, klimatologi, geofisika tetap dijalankan di pusat di Jakarta. Namun dengan adanya PSBB maka diambil alih oleh Denpasar," ujar Dwikorita.
Secara otomatis, kata Dwikorita, untuk operasional peringatan dini tsunami pun dipindahkan dari Jakarta ke Denpasar karena harus ada operator yang siaga untuk memonitoring.
"Jadi saat ini dengan adanya PSBB di DKI mulai 10 April operasional peringatan dini tsunami terutama diambil alih oleh Denpasar. Nah ini skenario kedua dan itu dijalankan dengan instruksi deputi geofisika menindaklanjuti hasil rapat pimpinan," tuturnya.
Selain itu, BMKG juga menyiapkan skenario lainnya untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk apabila Denpasar juga menerapkan PSBB. Jika demikian, operasional sistem akan dilakukan secara otomatis.
"Kami masih menyiapkan satu skenario lagi, semoga tidak terjadi. Yaitu baik Jakarta maupun Denpasar terkena PSBB berarti operasional oleh manusia itu terkendala. Sehingga skenario ketiga sistem dikendalikan secara otomatis. Jadi nanti di bawah pengawasan kepala deputi dan kapus terkait," demikian Dwikorita.
BERITA TERKAIT: