Ekonom: Dampak Virus Corona Lebih Kompleks Dibanding Krisis 2008 Benar, Tapi Yang Lebih Parah Itu Kepanikan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/raiza-andini-1'>RAIZA ANDINI</a>
LAPORAN: RAIZA ANDINI
  • Jumat, 06 Maret 2020, 21:38 WIB
Ekonom: Dampak Virus Corona Lebih Kompleks Dibanding Krisis 2008 Benar, Tapi Yang Lebih Parah Itu Kepanikan
Ekonom Faisal Basri (kiri) dalam diskusi yang digelar Indef/RMOL
rmol news logo Pernyataan bahwa dampak virus corona lebih kompleks dibanding krisis tahun 2008 diamini oleh ekonom senior Indef, Faisal Basri.

Menurut Faisal, tekanan ekonomi saat ini terjadi karena wabah.

"Virus corona membuat kebijakan ekonomi tumpul. Dalam konteks seperti itu, saya setuju," kata Faisal di ITS Tower, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (6/3).

Ia mengungkapkan, krisis 2008 terjadi karena 'virus' subprime mortgage dari sektor keuangan. Saat itu, Indonesia masih mampu tumbuh di angka 4,5 persen. Kondisi ini karena Indonesia tak memiliki virus keuangan yang dialami beberapa negara lain.

“Hanya segelintir negara yang mampu seperti itu. Saat itu Singapura resesi, tapi karena kita enggak punya virus keuangan (tidak resesi). Ini bukan karena Indonesia hebat, tapi memang produk ini (subprime mortgage) enggak ada," jelasnya.

Virus corona, kata Faisal, sudah mewabah ke 90 negara. Dia pun memprediksi akhir pekan depan sudah 100 negara terdampak. Hal itu, merupakan crisis pandemik dan bila bierkaca pengalaman, bisa diantisipasi dengan kebijakan ekonomi yang diharapkan bisa ditelurkan pemerintah.

“Jadi kita enggak tahu karena corona menyebar terus dan yang lebih parah itu kepanikan,” tandasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA