Tingginya PT Picu Otoritarianisme Parpol, Nasdem: Baca Dulu Dan Jangan Gebyah Uyah!

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/faisal-aristama-1'>FAISAL ARISTAMA</a>
LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Selasa, 03 Maret 2020, 17:12 WIB
Tingginya PT Picu Otoritarianisme Parpol, Nasdem: Baca Dulu Dan Jangan <i>Gebyah Uyah!</i>
Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya/RMOL
rmol news logo Anggapan tingginya ambang batas pencalonan presiden atau Presidential Threshold dapat memicu otoritarianisme partai politik dinilai tidak relevan.

Demikian disampaikan Ketua DPP Partai Nasdem, Willy Aditya di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/3).

"Nasdem tetap 20 persen (PT). Apa sih otoritarianisme politik itu? Jangan kemudian gebyah uyah (menyamaratakan) lah. Baca dulu teori politiknya, teori demokrasinya. Demokrasi itu separation of power (pemisahan kekuasaan), daulat rakyat, kalau dia (presidential threshold) 20 persen itu sebuah mekanisme namanya," kata Willy Aditya.

"Otoritarian melahirkan orang yang untestable (tidak bisa diuji), enggak melalui mekanisme pemilihan, gitu dong ah," imbuhnya.

Wakil Ketua Badan Legislatif (Baleg) DPR RI ini menjelaskan, dalam suatu sistem presidensial memerlukan basis di parlemen dan partai politik yang akan mengajukan ambang batas tersebut.

Karenanya, tidak relevan dan cenderung ngawur jika tingginya ambang batas presiden memicu otoritarianisme parpol.

"Harus kita pahami, pemerintahan yang terbentuk itu memiliki basis kekuatan di DPR. Ini kan presidensial, ketika dia tidak memiliki basis di DPR, bagaimana hubungan relasi antara eksekutif dan legislatif? Ini orang cara berpikir yang gebyah uyah," pungkasnya. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA