Kemajuan Kota Surabaya, menurutnya, bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga menyentuh pada aspek sosial dan ekonomi masyarakat, seperti berkurangnya kemiskinan dan kesenjangan sosial.
"Kalau lihat tingkat kemiskinan di Surabaya, di bawah 5 persen, kemudian gini ratio atau pemerataan pendapatan di bawah 0,3. Jadi, indikator empiris menunjukkan Surabaya bagus," kata Rokhmin, dalam sebuah acara di Hotel Century Park, Minggu (16/2).
Rokhmin pun meminta masyarakat untuk jujur membandingkan penampakan Kota Surabaya sebelum dan sesudah dipegang Risma.
"Kalau kita jujur datang ke Surabaya sebelum Bu Risma. Kan kotor, banyak dinding-dinding kotor sekali, polusi udara begitu tinggi, debu, segala macam," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan era Megawati Soekarnoputri ini.
Latar belangan Risma yang memiliki pendidikan arsitektur dan planologi itu berhasil membenahi Kota Surabaya secara fisik menjadi lebih baik. Apalagi kinerja Risma bukan hanya diakui dalam negeri. Asosiasi Wali Kota seluruh dunia pun menempatkan Risma sebagai tokoh yang berhasil dalam pembangunan kotanya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk bersikap jujur dan objektif, saat mengevaluasi harus berdasarkan landasan serta fakta yang ada.
Perbaikan tidak serta merta instan, melainkan ada tahapannya. Tahapan-tahapan tersebut tentu mengarah pada perkembangan dan kemajuan, bukan jalan di tempat atau kemunduran.
"Kita jadi manusia harus jujur dan objektif. Mengevaluasi harus ada landasan evaluasinya," tutur Rokhmin. Hal ini sekaligus menanggapi cuitan Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar atau Cak Imin di Twitter.
Cak Imin menyebut Surabaya sebagai kota sejarah dan legenda, tetapi menurutnya tidak ada kemajuan signifikan di Kota Pahlawan.
BERITA TERKAIT: