“Lebih menyakitkan lagi, tentu saja jika pembelaan dan pernyataan tersebut dikeluarkan oleh pemerintah yang tugas utamanya seharusnya adalah memberantas terorisme, bukan menyiapkan bibit dan ladang bagi terorisme,†ujar analis intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta, dalam keterangannya, Senin (10/2)
Ia merasa sangat aneh ketika isu kemanusiaan dan HAM digaungkan demi mendorong ratusan kombatan ISIS itu dipulangkan, sementara pembelaan terhadap korban terorisme yang dampaknya adalah kematian, cacat seumur hidur, trauma dan lainnya lebih sepi terdengar.
Pasca kekalahan ISIS, para simpatisan berpencar ke tiga kamp pengungsian, yaitu di Al Roj, Al Hol, dan Ainisa. Mengurus dan membiayai ratusan pengungsian ini tentu tidak mudah dan tidak murah.
“Ya, cara-cara seperti propaganda, isu kemanusiaan dan HAM, akhirnya menjadi masuk akal agar negara-negara yang menjadi asal dari anggota ISIS tersebut tergerak untuk mengurus pengungsi. Kamp pengungsian sedang berusaha meringankan beban dirinya, dan itu artinya memindahkan sumber ancaman dari Timur Tengah ke Indonesia,†tegas Stanislaus.
Kombatan ISIS itu sedang memainkan sandiwara, play victim, Karena mereka telah kalah dan butuh tempat perlindungan. Stanislaus meyakinkan, tentu akan berbeda bila saat ini ISIS dalam posisi memang.
Sekali lagi ia menegaskan, bahwa pilihan memulangkan kombatan ISIS sebaiknya tidak dilakukan. Kecuali jika memang ada kepentingan lain yang dibungkus dengan kemasan kemanusiaan dan HAM, yang lebih berpihak pada pelaku terorisme daripada korban terorisme.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google