Menurut peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC), Surokim Abdussalam, hal itu dilakukan guna mencari keseimbangan politik pasca Pilpres 2019.
"Saya memprediksi Pak Prabowo akan fokus pada upaya beliau menjadi
king maker dengan mencari keseimbangan politik, termasuk mencairkan komunikasi politik dengan Bu Mega yang juga menjalankan peran sebagai
king maker politik Indonesia," kata Surokim dilansir
Kantor Berita RMOLJatim, Minggu (28/7).
Hal itu ia sampaikan berkenaan dengan anggapan bahwa pertemuan keduanya bakal membuat Prabowo meninggalkan kelompok 212 yang memang kerap berseberangan dengan kelompok politik penguasa.
Kendati demikian, berkaca pada pengalaman, Prabowo dinilai lihai dalam membentuk seorang tokoh. Perannya sebagai
king maker selama ini memang sangat berhasil.
Surokhim pun yakin bahwa Prabowo sudah memilikirkan dengan matang sebelum mengambil langkah bertemu dengan Presiden ke-5 RI itu meski bakal direspon kelompok 212 yang sebelumnya mendukungnya.
"Pak Prabowo tentu sudah berhitung bahwa kekuatan 212 bukanlah kekuatan menentukan dalam politik Indonesia. Kekuatan itu riuh tetapi sebenarnya belum signifikan," jelas Dekan Universitas Trunojo Madura ini.
Suka tidak suka, langkah yang diambil Prabowo ini akan membuka relasi kuasa Prabowo dalam peta penentuan hal-hal strategis di belakang panggung politik.
"Apakah berpengaruh ke suara Gerindra nantinya karena massa 212 dan parpol pengusung kecewa? Itu kecil pengaruhnya," lanjutnya.
"Struktur pemilih mayoritas Indonesia adalah pemilih moderat, semakin dekat Pak Prabowo ke kelompok 212 peran sebagai
king maker akan kian terbatas," tandasnya.
BERITA TERKAIT: