Saat kampanye, Jokowi menarget ekonomi tumbuh 7 persen. Tapi selama 4,5 tahun ini, pertumbuhan ekonomi mentok di 5 persen.
Namun, Joko Widodo dinilai cukup berhasil mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sebab, pertumbuhan ekonomi itu diraih saat ekonomi global melambat.
“Amerika saja pertumbuhan ekonomi 2,9 persen. Indonesia tidak terlalu buruk, tapi juga tidak terlalu baik. Singapura saja tiga persen,†kata pengamat politik Rosdiana Sijabat dalam diskusi publik di Cikini, Kamis (11/4).
Dengan kata lain, pertumbuhan 5,2 persen yang dicapai Indonesia adalah angka yang patut disyukuri untuk perekonomian yang sedang sepi.
Sebab faktor eksternal tidak bisa 100 persen diprediksi.
“Di Asia Tenggara terjadi pelemahan permitaan barang dan jasa. Perekonomian global akan menekan perekonomian kita. Jadi siapapun nanti yang terpilih, bagaimana meningkatkan aktivitas ekonomi dari sisi rumah tangga,†tuturnya.
Senada dengan itu, Direktur Komunikasi Politik TKN Jokowi-Maruf, Usman Kansong juga pertumbuhan itu patut disyukuri.
“Dibandingkan negara G20, kita di nomor tiga setelah Tiongkok dan India. Kenapa dibandingkan dengan G20? Karena size ekonominya besar,†tegasnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (12/4).
BERITA TERKAIT: