Politisi PAN, Drajad Wibowo berpandangan bahwa survei tersebut juga sebagai bentuk kekecewaan rakyat kepada pemerintah saat ini.
“Saya melihat fenomena
“protest vote†yang makin tinggi. Mereka marah dengan beberapa kejadian, seperti OTT Romi, ketidakadilan dalam penegakan hukum, dan penjegalan Prabowo-Sandi di beberapa daerah,†ujar Drajad kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (20/3).
Drajad melanjutkan, soal vulgarnya kementerian/lembaga negara, BUMN, ASN berpolitik, bahkan isu uang negara untuk mendongkrak elektabilitas juga membuat rakyat tidak senang.
“Di Jatim misalnya, saya bertemu pemilih-pemilih Pak Jokowi tahun 2014 yang menganggap pemerintah menghalalkan segala cara. Mereka sekarang memilih Prabowo sebagai protes.
Protest votes ini sangat berpotensi menggerus suara Jokowi-Maruf,†bebernya.
Tentu peluang itu tidak akan disia-siakan oleh BPN Prabowo-Sandi saat ini. Hingga 17 April 2019 mendatang, pihaknya akan
all out memanfaatkan peluang ini.
“Gerakan ke kalangan pekerja, petani/peternak, nelayan dan penduduk pedesaan juga perlu lebih intensif. BPN dan caleg akan makin gencar bertemu dengan mereka,†tandasnya.
Pada Survei Litbang Kompas, elektabilitas Jokowi berada di angka 49,2 persen, sementara Prabowo-Sandi hanya terpaut sekitar 11 persen dari petahana.

BERITA TERKAIT: