Perkiraan elektabilitas PDIP akan naik menjadi 35 persen setelah mengusung Jokowi, Rizal mencontohkan. Ternyata dua hasil lembaga survei dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan penurunan yang cukup signifikan hinggga 18 persen, khususnya dari pemilih kalangan muslim.
"Artinya kalau perkiraan 3-6 kali
margin of error pasti bayaran dan tidak ilmiah," tegas Rizal, Minggu (3/3).
"Bayaran, artinya polling hanya alat kampanye, jangan dijadikan basis perkiraan," pinta Rizal.
Menurut Rizal, jika mengikuti kaidah survei yang benar sebetulnya pasti mendekati
margin of error. Untuk pertanyaan sosial ekonomi, Rizal melihat umumnya masih wajar dan tidak terlalu manipulatif. Tapi jika menyangkut elektabilitas, kebanyakan lembaga survei dinilainya manipulatif.
"Termasuk survei Ahok pasti menang 2-3 persen, kenyataannya kalah 16 persen. Selisih 18-19 persen, delapan kali
margin of error. Propaganda!" tegasnya.
Sebetulnya, masih kata Rizal, jika lembaga survei mau rajin bergaul dengan semua lingkungan baik atas, tengah maupun bawah tanpa terkecuali, dan pertanyaan yang diajukan secara random maka hasilnya pasti lebih akurat.
"Itulah yang sering kami lakukan, hasilnya mendekati kenyataan. Kami benar tahun 2009, PDIP 16 persen dan 2014 sekitar 18 persen. Dan Ahok pasti kalah karena
core diehard-nya hanya 20 persen," ulas mantan menteri koordinator perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini.
Dan sekalipun nanti pasangan calon nomor urut 01, Jokowi-Maruf bisa meraup 42 persen suara di Pilpres 2019, Rizal meyakini karena dukungan all out negara, aparat nyaris semua media
mainstream dan taipan. ***
BERITA TERKAIT: