Kepastian itu dikonfirmasi oleh Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Wahid Supriyadi, dalam press brifieng di Ruang Palapa, Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Kamis (28/2).
"Insya Allah tahun ini. Tidak ada kendala, cuma masalah waktu saja. Mereka (pihak Rusia) juga memahami kita dalam kondisi pemilu saat ini," ungkap Wahid.
Presiden Rusia dan Presiden RI diagendakan menandatangani dokumen
strategic partnership (kemitraan strategis).
"Kedatangan ini akan membawa misi besar. Pertama kali kita akan menandatangani
strategic partnership. Ini tingkat hubungan paling tinggi dan ditandatangani kepala negara. Ada mekanisme baru hubungan kedua negara, ada pertemuan bilateral tingkat tinggi," tutur Wahid.
Pemimpin negeri "beruang merah" itu akan membawa agenda peningkatan kerjasama ekonomi perdagangan dengan menggaet banyak pengusaha.
Selain mengesahkan kemitraan strategis, dua negara akan meneken Mutual Legal Assistance (MLA) terkait kemudahan visa dan beasiswa pendidikan meski waktunya belum resmi dijadwalkan.
"Jadi, soal kemudahan orang Indonesia ke Rusia mungkin bisa lebih cepat ditandatangani. Ini belum masuk dalam penjajakan, begitu juga beasiswa," lanjutnya
Dubes Wahid mengaku telah menyampaikan soal penyederhanaan proses visa pada forum konsultasi bilateral 21 Februari 2019.
"Mungkin simplifikasi bisa diterapkan karena kita mengadakan festival Indonesia di Rusia, ada 1000 orang lebih yang datang ke Rusia. Begitu juga Beasiswa, sekarang ada 600 mahasiswa kita di sana. Jumlahnya cukup meningkat," terangnya. ***
BERITA TERKAIT: