Rahlan mencontohkan saat Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia imam besar FPI Rizieq Shihab tidak pernah masuk dalam survei capres maupun cawapres. Bahkan di era SBY, Rizieq sudah dua kali terpidana.
Menurut Rahlan cara yang dilakukan pemerintah dalam mendikotomikan aliran keagamaan semakin membuka ruang untuk munculnya gerakan politik yang lebih dahsyat. Ia mencontohkan lagi mengenai fenomena aksi 212. Banyak umat Islam tergerak hatinya untuk membela agamanya.
"Bagi mereka lebih baik memilih beragama daripada bernegara, sementara pemerintah membuat kontranya dengan saya Pancasila, kalian intoleran," ungkap Rahlan.
Lanjut dia, menilai cara pemerintah dalam menurunkan tensi gerakan tersebut juga sangat tidak efektif. Sementara di masa SBY, pemerintah melakukan
low intersity conflict.
"Kontra pemerintah dari aliran keagamaan di masa SBY disimpan di dalam suatu kotak agar tidak naik jadi gerakan politik," pungkasnya.
[nes]
BERITA TERKAIT: