Sebab, lanjutnya, rilis hasil tingkat keterpilihan itu sudah membuat kegaduhan baru di masyarakat.
"Bawaslu harus semprit itu lembaga-lembaga survei. Katanya anti ujaran kebencian, kegaduhan, ini kan sudah bikin gaduh," ujarnya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (25/4).
Kegaduhan yang dimaksud adalah adanya perbedaan yang sering terjadi antar lembaga survei. Perbedaan hasil itu acapkali menimbulkan gaduh di masyarakat.
"Lembaga A menangkan calon A, kemudian yang lembaga B menangkan calon B, akhirnya di masyarakat gaduh," jelasnya.
Lebih lanjut, Taufik juga mengkritisi independensi lembaga survei. Dia yakin, ada sponsor di balik setiap hasil survei yang dirilis. Itu juga yang kemudian membuat hasil survei berbeda-beda.
"Siapa yang bayar, pasti ada yang bayar! Tidak mungkin jika tidak ada yang bayar, katanya independen," seloroh Taufik.
[ian]
BERITA TERKAIT: