Ekonom senior Rizal Ramli menjelaskan, dirinya sudah konsisten memerangi liberalisme sejak menjadi aktivis mahasiswa 77-78.
"Sejak mahasiswa saya sudah mengeluarkan buku putih kritikan terhadap kebijakan Widjojo (Nitisastro) saat itu,†jelas RR ketika dijumpai di kediamannya kawasan Bangka, Jakarta Selatan, Senin, (23/4).
Buku putih yang ditulis RR kemudian diterjemahkan ke dalam 9 bahasa oleh Profesor Ben Anderson dari Cornell University.
Buku itu mengkritik Widjojo Nitisastro merupakan ekonom era Soeharto, yang disebut-sebut sebagai Mafia Berkeley dengan kebijakan ekonomi liberalismenya.
Sejak tahun 1967, Orba secara murni telah menerapkan praktik-praktik liberalisme yang sejatinya bertentangan dengan pasal 33 UUD 1945.
Maka dari itu Gerakan Malari dan Gema 77-78 lahir sebagai respon terhadap kebijakan Orba yang mengarah pada liberalisme.
Perang terhadap liberalisme, kata mantan Menko Ekuin era mendiang Presiden Abdurrahman Wahid ini, terus berlanjut hingga setelah reformasi.
Parahnya, saat ini liberalisme sudah berubah wujud menjadi neoliberalisme yang dampahnya jauh lebih berbahaya.
"SBY itu teman dekat saya, tapi ketika kebijakannya sudah mengarah ke neolib tetap saya kritik,†terang pria yang pernah menjadi Penasihat Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini.
Begitu pun ketika era Jokowi saat ini, kritikan terhadap neoliberalisme tak pernah surut dilakukan Rizal Ramli.
"Saya akan terus mengkritik neoliberalisme karena ini tidak membuat bangsa ini makmur,†tandas tokoh nasional yang juga pernah menjabat Menko Kemaritiman RI.
[sam]