Oleh pihak Universitas Bung Karno (UBK), ia diberi mandat memberikan kuliah umum di Aula Dr. Ir. Soekarno, Jakarta Pusat dengan tema "Persahabatan Rakyat Indonesia-Korea dan Sejarah Bunga Kimilsungia".
Ia ungkapkan, memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa dan mahasiswi Universitas Bung Karno Jakarta adalah kehormatan bagi dirinya. Kuliah umum yang ia berikan dihadiri juga oleh pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno yang juga putri Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri.
"Hari ini saya mengambil kehormatan memberi kuliah umum tentang sejarah persahabatan rakyat Korea dan Indonesia," ujarnya.
Dirinya berbagi cerita tentang hubungan persahabatan kedua negara yang terjalin sejak pertemuan Presiden pertama Indonesia, Soekarno, dan Pemimpin Korut, Kim Il Sung, di tahun 1965.
"Kunjungannya (Kim Il Sung) pada 10-20 April 1965 adalah peristiwa sejarah bagi hubungan persahabatan kedua negara kita, dan Indonesia adalah negara tunggal di mana kedua pemimpin kita berkunjung bersama," tandasnya.
An Kwang Il melanjutkan, meski sudah berlangsung lebih dari separuh abad, hubungan kekeluargaan Korea dan Indonesia tetap berlanjut baik di tengah perubahan situasi dunia yang rumit.
"Korea dan Indonesia memang punya perasaan akrab sebelum menjalin hubungan bisnis. Ini disebabkan karena kedua rakyat kita sama-sama membagi perasaan sangat bebas, menentang penjajahan dan semangat cinta terhadap negara sendiri," tuturnya.
Soekarno bersahabat dekat dengan Kim Il Sung, yang merupakan pendiri Republik Rakyat Demokratik Korea sekaligus kakek dari pemimpin sekarang, Kim Jong Un.
Kunjungan Bung Karno ke Korea Utara pada November 1964 dibalas Presiden Kim Il Sung pada tahun 1965. Saat kunjungan balasan Kim Il Sung, Bung Karno memberikan bibit Anggrek di Kebun Raya Bogor, 13 April 1965. Bung Karno meminta agar bunga itu dinamai Kimilsungia.
Hingga kini, pemerintah Korea Utara menggelar pameran Kimilsungia setiap bulan April, yang puncaknya pada tanggal 15 April, yaitu hari kelahiran Kim Il Sung.
[ald]
BERITA TERKAIT: