Untuk mengoptimalkan pelayanan itu, menurut dia, dua komponen utama yang perlu dijadikan sebagai perhatian adalah lengkapnya alat kesehatan dan obat-obatan.
"Pemerintah terus berupaya memberikan layanan optimal kepada kesehatan masyarakat secara merata dengan menggunakan alat kesehatan dan farmasi yang berkualitas dan memadai," tegas Maura di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (9/4).
Untuk itu, lanjut Maura, industri alat kesehatan dan obat-obatan dari dalam negeri pun harus turut ditumbuhkembangkan. Terlebih rumah sakit juga mulai menjamur di setiap kota-kota di negeri ini. Hal itu sesuai dengan Inpres Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa saat ini, industri perkembangan industri alkes dan farmasi bisa dibilang cukup bagus. Dimana industri farmasi berbasis riset sudah mulai bekerja sama dengan perusahaan atau pabrikan lokal yang memang sudah memenuhi kualifikasi dan standar.
"Utamanya dari segi steril, yang dibutuhkan dengan mengutamakan keselamatan pasien," tandasnya.
Perwakilan dunia usaha bidang farmasi dan alat kesehatan, Eko Samdoyo mengakui bahwa hampir 90 persen dari 206 industri farmasi dan 95 industri alkes nasional masih mengandalkan barang impor. Padahal menurut dia, keberadaan barang impor itu justru bakal memberatkan masyarakat dan pemerintah sendiri yang memang getol ingin mensukseskan JKN.
Meski demikian, pihaknya menegaskan bahwa industri dalam negeri sangat siap untuk memproduksi sendiri, Salman didukung oleh perizinan yang tak berbelit-belit.
"Kami dari industri farmasi lokal siap memproduksi barang-barang dengan kualitas baik bila didukung perizinan," tegas Eko.
Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Unsrat Manado, Prof Dr dr Starry Rampengan memgaku optimis bahwa industri farmasi dan alkes dalam negeri bisa berkembang.
"Tapi produk yang dihasilkan harus sesuai standar nasional maupun internasional," demikian Starry Rampengan.
[rus]
BERITA TERKAIT: