Pengamat: Isu SARA Tidak Lebih Siginifikan Daripada Ekonomi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Selasa, 27 Maret 2018, 07:39 WIB
Pengamat: Isu SARA Tidak Lebih Siginifikan Daripada Ekonomi
Presiden Joko Widodo/Net
rmol news logo Petahana Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) harus ekstra hati-hati dalam memilih calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampinginya dalam kontestasi Pilpres tahun 2019.

Pengamat politik dari The Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes meengingatkan bahwa untuk memilih seorang cawapres, ada beberapa persoalan yang harus dipertimbangkan. Misalkan isu SARA yang mungkin saja akan digunakan oleh lawan politik.

"Tergantung tingkat kompetisinya, kalau tingkat kompetisinya kuat isu SARA akan digunakan. Tapi jika kompetisi tidak tinggi jarak elektabilitas petahana dan non petahana jauh biasanya tidak digunakan," katanya kepada wartawan awal pekan ini.

Namun kata dia, isu SARA tak bakalan memiliki efek yang signifikan bagi tingkat elektabilitas pasangan tertentu karena memang dua ormas Islam terbesar, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah serta kebanyakan masyarakat menolak penggunaannya.

Jika dibandingkan, lanjut Arya, maka isu ekonomi lah yang lebih berpengaruh ketimbang isu SARA. Misalnya kinerja kabinet bidang ekonomi, kesejahteraan masyarakat, utang negara yang kian menumpuk dan tenaga kerja asing.

"Isu itu akan lebih kuat karena masyarakat lebih konsen dengan isu ekonomi," tandasnya.

Lalu pertimbangan pemilih milenial yang harus direbut hatinya oleh mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Dikatakannya tokoh milenial itu haruslah mampu dijadikan lawan tanding bagi sosok politisi Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

"Memang ini tidak mudah bagi Jokowi dalam merebut hati milenial," imbuhnya.

Kemudian pertimbangan penerimaan sosok oleh koalisi, pertimbangan PDIP, serta pertimbangan representasi wilayah timur, tengah dan barat.

"Ini memang banyak variabel," tekan Arya.

Nah, dari beberapa kriteria tersebut, dipertegas siapa sosok paling cocok untuk bersanding dengan Jokowi, Arya mengatakan bahwa yang pasti, saat ini Jokowi masih menimbang-nimbang untuk menjajaki para ketua umum partai seperti Ketum Golkar, Airlangga Hartarto; Ketum PPP, Romahurmuziy; dan Ketum PKB, Muhaimin Iskandar.

"Jadi Jokowi masih memberi kesempatan kepada siapapun, tidak memberi keistimewaan siapapun," ujar Arya.

Sosok yang layak mendampingi Jokowi, imbuh Arya, tergantung pada tingkat kompetisinya.

"Jika jarak dengan penantangnya dekat yakni hanya 5 persen atau 10 persen misalnya tentu akan memilih tokoh Islam menjadi pendamping untuk merebut masa Islam," pungkas Arya. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA