Ketua Umum Ikatan Dai Indonesia (IKADI), Ahmad Satori Ismail bahkan menilai ekonomi syariah layak jadi lokomotif perekonomian, apalagi saat ini banyak bisnis perbankan yang mulai melirik sistem ekonomi syariah.
"Banyak bank konvensional yang membuka pintu untuk sistem syariah, karena tidak akan rugi," kata Satori dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/3).
Hal senada juga diutarakan ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda. Kata dia, Indonesia yang memiliki penduduk muslim besar sangat berpotensi mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia.
Hanya saja, ada sejumlah tantanan yang harus dihadapi dalam menerapkan ekonomi syariah, seperti perdagangan yang menyerap banyak tenaga kerja dan pendorong perekonomian.
"Untuk itu, pemerintah harus bisa mengembangkan perbankan syariah terlebih dahulu, sebelum menggerakan perdagangan," tegasnya.
Nailul juga mengapresiasi komitmen pemerintah yang ingin serius menggarap potensi ekonomi syariah. Setidaknya, kata dia, komitmen itu tercermin dari hasil Rapat Kerja Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang berlangsung akhir pekan kemarin, yang salah satu keputusannya adalah mendaulat Kepala Staf Presiden, Jenderal (purn) Moeldoko sebagai Wakil Ketua Pembina Pengurus Pusat MES.
Dalam sambutan usai dilantik, Moeldoko menegaskan bahwa pemerintah serius menggarap potensi ekonomi syariah agar Indonesia tidak hanya sebagai konsumen maupun pangsa pasar industri bagi negara lain.
Moeldoko menjabarkan sebuah data bahwa penggunaan pembiayaan syariah mencapai 41,8 persen yang sebagian digunakan unuk konsumsi sedangkan pembiayaan modal kerja sebanyak 34,3 persen dan investasi sekitar 23,2 persen.
"Aset perbankan syariah pada sektor industri keuangan syariah mencapai Rp 435 triliun pada 2017 atau 5,8 persen dari total aset perbankan Indonesia," paparnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: