Impor Beras Hanya Permainan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Rabu, 17 Januari 2018, 19:37 WIB
rmol news logo Kebijakan impor beras 500 ribu ton dari Thailand dan Vietnam oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dinilai hanya permainan.

"Yang bergejolak harga beras medium, yang diimpor beras khusus. Nggak nyambung," kata aktivis senior Abdulrachim K kepada redaksi, Rabu (17/1).

Impor beras, sebut aktivis 77/78 ini, juga bukan karena kebutuhan menutup stok akibat kurangnya produksi beras nasional.

Dia menyebut masalah beras sangat sederhana tapi diplintir-plintir seolah masalah rumit. Abdulrachim mengaitkan kenaikan harga beras yang kemudian dijadikan alasan impor oleh Kementerian Perdagangan dengan peran Bulog.

"Bulog yang main dengan cara operasi pasar dengan volume yang sangat kecil cuma 30 ribu ton/3 bulan harusnya 600 ribu ton/3 bulan. Stok cukup untuk itu karena 1 bulan lagi sudah panen. Bisa isi gudang Bulog lagi," katanya.

Lagi pula, lanjut dia, jika stok beras surplus pemain beras akan menaikkan harga.

"Mereka kan menguasai jaringan distribusi beras sudah puluhan tahun. Disinilah fungsinya Bulog untuk melawan permainan harga. Kalau Bulog hanya menggelontorkan operasi pasar ecek-ecek pasti harga beras naik. Bukan soal produksi berasnya kurang. Ini permainan harga yang secara tidak langsung didukung Bulog," demikian kata Abdulrachim.[dem]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA